Langkau ke kandungan utama

Catatan

nota pengakhiran semester

Assalamualaikum w.b.t. Setelah sekian lama tidak mencoret satu dua kisah... Terlalu banyak kisah yang tak terungkap di semester ini. Aku cuma berdiri di tepi memandang satu demi satu kisah. Rumit. Selayaknya. Petang ini, tersentak aku lihat satu foto, di mana ia menimbulkan persoalan yang sampai ke hujung tiada jawapan yang pasti. Penyelesaian yang tidak kunjung tiba. Di mana silapnya, teman? Hari ini, kita enggan memberikan sedikit 'belas' buat mereka dengan alasan mereka ini 'diberi betis, nak peha'. Lantang saja kita bilang, 'mereka sudah ditakdirkan sebagai kaum yang selamanya begitu'. Salahkah mereka dilahirkan dalam kelompok minoriti itu? Dan kamu, si kelompok minoriti, sejauh mana kamu terusan berada di lingkungan yang sama? Padahal, kamu juga bermula sama dengan tempohnya seminoritinya kaum kami suatu ketika dulu. Tapi, kenapa kami tidak bersama kamu di persisir jalan, deretan kedai... apa kamu juga menyalahkan takdir nenek moyang mu yang mewa...

kucing tak bernama

Assalamualaikum w.b.t. Kucing adalah antara peliharaan yang kami ada yang kadang ada yang kadang tiada. eh? Maksudku, keadaannya itu tidak berterusan... kadang pergi tanpa berita dan tidak kurang juga yang pergi di depan mata kami, maka kami selalu menjadi persinggahan makhluk ini. Sampai yang kami punya sekarang, tempohnya bersama kami kalau dihitung belum cukup dua belas bulan, entah kurang berapa, aku juga tidak pasti. kucing Mahallah Sumayyah, k bidik awal tahun 2015. Tiada copyright, nama kucingnya saja aku tidak tahu. Versi kuak lentang juga ada, tapi tidak dimuat naik, aurat kan. haha. (canda)   Foto yang di atas itu, pastilah bukan kucing di rumah kami. Soalnya, kalau yang di rumah tu, ndak da sosok atau figure posing ya. Paling-paling lagi mahu ketip kamera, kucingnya gerak melulu, maju ngesel-ngesel badan ke kita atau langsung ngesel saja ke kamera. Iya, itulah karakter kucing di rumah kami sekarang ini. Kucing tak bernama.Sudah menghampiri dua belas bulan...

tinggal pergi

Assalamualaikum w.b.t. & selamat malam      Hari ni saya tertinggal buku 'The Alchemist' karya Paulo Coelho di perhentian bas Mahallah Nusaibah. Sekitar jam 12, saya dan Chua menuju keluar membeli barang harian dan kemudiannya kembali ke uia sekitar jam 3. Dalam tempoh itu, tangan saya asing sekali tanpa buku. ceh. Hahaha. Bukan menunjuk, tetapi saya ada masalah untuk tampil di hadapan khalayak, kalau bukan sekadar skrol-skrol hp, saya genggam buku. Adalah teman yang tidak akan khianat dan mungkir, itulah erti buku bagi saya.      Sesampai kami di bilik, saya baru tersedar kalau fizik buku tu ternyata tiada di beg saya. Haru jadinya. Dalam hujan berangin tadi saya redah ke perhentian bas Nusaibah. Appearance? Sekadar menutup aurat, kawan. "The Alchemist" merupakan salah satu daripada senarai buku yang saya ingin miliki semester ini. Sedikit lagi hati saya goyah, 'ah, beli saja yang baru...' Tapi dalam goyah begitu, kaki saya laju saja mel...

mengerti

Assalamualaikum & selamat malam      Jangan pernah berfikir yang kamu memahami seseorang sehinggalah kamu meletakkan diri kamu ke dalam kondisinya. Mungkin, kita beranggapan bahawa kita bisa memahami tetapi besar kemungkinan itu cuma imaginasi. Kenapa saya bilang begitu? Kerana kita datang dari variasi latar belakang , contohnya, saya datang dari masyarakat pekebun kecil sawit tapi belum tentu anak-anak pekebun kecil lainnya bisa memahami kondisi saya bilamana faktor pendidikan dan saiz keluarga diambil kira. Apatah lagi untuk anak kota untuk memahami kondisi kami? saya?       Waktu mula-mula menginjakkan kaki ke pengajian tinggi, saya selalu tertanya-tanya kenapa ada dalam kalangan anak pekebun kecil di perkampungan saya yang tidak betah melanjutkan pengajiannya. Kadang ada yang cuma sambung separuh jalan. Apabila berada di situasi itu, baru saya faham, terlalu banyak perkara yang terlalu rumit untuk kami mengerti dan jalani. Bay...

malu

Assalamualaikum & selamat malam.      Kelmarin, saya menemani seorang teman untuk menjaja jajan di kaki lima bangunan kuliah kami, atau lebih tepat lagi di kaki lima kelas kami, di lantai satu itulah. Entah kenapa, ia bukanlah perkara yang asing, tetapi malu menyapa. Kamu tahu, saya bentak banyak kali hati, 'kenapa?'      Malu?  Kenapa?     Betapa banyak hal yang diperbuat yang lebih memalukan berbanding menjaja jajan di kaki lima. Apabila diri mengharap pada penilaian sesama makhluk, beginilah jadinya. Walhal, redha Allah la yang patut dicari. Saya rasa bukan setakat ini sahaja, betapa banyak hal lain lagi yang selayaknya diperbuat dengan rasa bangga tapi ditatangi dengan rasa malu. Manusia, bangkit dari lenamu! Selama kau berpegang pada penilaianNya, tiada apa yang bisa memalukanmu. Hal yang baik sepatutnya diraikan. Berhenti membilang nilaimu dihadapan sesama makhluk!

apologi

Assalamualaikum & salam sayang (hahaha)      Lama juga menyepi dari laman ni. Ada beberapa komen yang tidak berbalas, ya ampunn.. saya mohon apologi di atas kelalaian saya ini. Semenjak beberapa bulan lepas, saya tumpukan pada hal-hal lain. Mungkin 'bahana' subjek semester lepas menyebabkan saya perlu melarikan diri SEKEJAP dari dunia tulis-tulis ni. *kedua tangan pegang kepala*      Ada beberapa buku yang sudah saya hadam, tapi tidak berkesempatan untuk dikongsikan intinya. Bahkan buku Gie itupun saya tidak berupaya untuk menyambung sesi terdahulu. Haha. Kerja separuh-separuh, jangan ditiru!      Perkhabaran yang baik, ah dilema nih, mendapat invitasi (wujud ka istilah tu?) untuk melanjutkan pengajian master di kuliah ICT di IIUM ini juga, tapi masih punya sisa dua semester (termasuk semester ini). Masih panjang waktunya untuk memilih, boleh jadi juga waktu yang cukup untuk menetapkan pendirian. hahaha. Saat ad...

rumah bahagia

Kami ditinggalkan lagi satu demi satu pertemuan kami diakhiri   rumah bahagia yang kami bangun hilang serinya, hilang gah nya   kerna perpisahan terlalu pedih ada yang hidup tapi pergi jauh dan aku juga berkira-kira hendak melangkah jauh dari rumah ini   mak berkata, bertahanlah, nak. kita tetap utuh di rumah ini bukan kerna kita kuat tapi kerna kita tidak mahu rumah ini runtuh satu-satunya kenangan yang kita ada.   biar kita tetap di sini biar kalau mereka pulang ada yang sapa biar mereka tahu bahawa jauh mana pun mereka pergi, di sini ada kita yang selalu menanti   rumah ini jangan diruntuh.