Wednesday, 29 March 2017

Kehilangan Seppang

Assalamu'alaikum dan selamat malam.

Beberapa hari yang lepas, salah seekor kucing kami mati. Namanya Seppang. Dia itu membesar di depan mataku, dari dia lahir sampai mati,aku ada menyaksikan.

Seppang kucing yang baik, pintar, friendly dan bersifat positif. Dari dia kecil sudah jelas kepintarannya dan peribadi yang cepat menarik perhatian orang. Bahkan bulunya saja sudah memberi impresi bagus.

Menginjak usia remaja, dia lanjut dengan penuh tertib. Kiranya dia merupakan kebanggaan dalam keluarga kami. Aku kira dia memang antara yang popular dalam kalangan ahli. Setelah kakak-kakaknya melahirkan dialah sosok yang rajin mendukung anak-anak kecil itu. Pernah suatu ketika, saat keluarga kami mula-mula menerima ahli yang ramai, kami belum matang lagi dalam hal penjagaan. Maka, kami bawa sejumlah 9 ekor anak kucing ke rumah lama (jaraknya dari rumah kami kini tidak sampai 1 minit kalau kau berlari kencang) dengan harapan mereka dapat didisiplinkan di situ.

Waktu itulah, Seppang menjadi pembantu yang ampuh, yang boleh diharap. Dia itulah yang akan menjaga adik-adiknya siang malam sampai tidak pulang rumah. Dia yang menemani bermain dan tidur. Ah, juga makan. Bila kami panggil dia pulang maka baru jugalah dia pulang dan kemudian bepergian lagi ke rumah lama. Pernah dia pulang ke rumah tapi bersamanya nanti adik-adiknya. Maka kami yang tidak mengerti memarahi lagi, biar membesar di rumah lama itu adikmu, kata kami.

Kemudian, anak-anak kucing itu tadi kembali ke rumah dan menatap di bawah kolong dan di beranda bahagian belakang rumah. Seppang jugalah yang duduk seharian bermain dengan adik-adiknya di bawah rumah. Kadang-kadang adiknya lolos ke dalam rumah, tinggal dia sendirian di atas para-para di kolong, tidur memeluk diri kerana kesejukan.

Semakin ia dewasa, aku kira dia paling rapat sama aku. Walaupun yang selalu memberi makan adalah mak. Tabiatnya itu menampar muka kita, menggigit telinga, hidung dan menjilat pipi dan kening.
.
.
.
.
.
Dan dua hari lepas dia pergi. Dua hari terakhir dia tiada nafsu makan. Air pun tidak tertelan. Aku pun memujuk diri, mungkin dia selesema. Seharian pertama dia tidur saja. Aku kira itu proses penyembuhannya. Tetapi melewati hari kedua, jalannya sudah tidak dapat diimbang. Mukanya cengkung. Miawnya bisu. Aku pun baru sedar kalau itu adalah momen-momen terakhir kami.

Malam itu, masuk dia dibilikku. Tiada sudah gelak-gelak kecilku seperti dulu kalau dia bertandang. Kerna yang terpapar di depan mataku adalah sosok tubuh kucing yang berperang dengan maut. Tatkala tanganku mengusap kepalanya, cuping telinganya dingin, hidungnya dingin, kaki-kakinya juga dingin. Aku menangis sungguh-sungguh.

Lihatlah aku ini Seppang. Manusia yang takut pada perpisahan. Kalau kau bisa mengerti, tangisku ini berbicara tentang sesal dan juga harapan. Mengerti kau? Meskipun itu suatu tindakan yang tamak, kerna tiap yang bernyawa akan mati, tiap yang kita punya adalah milik pemilikNya. ..
.
.
.
.
.
Pernah dia itu aku ceritakan betapa perit menjalani hidup. Betapa sakit ketika jatuh di pentas dunia. Menangis dan tersedu-sedan. Matanya berkelip. Ini bukan ekspresi yang selalu dilihatnya terpampang diwajahku. Aku benar-benar depresi. Dan ku katakan padanya, kalau dialah teman tempat aku menangis. Hidup seorang manusia yang sepi. Menangis pun perlukan teman.

Padahal dia, semalaman terakhir itu tiada tidur menahan sakit. Aku peluk dia biar kurang sakitnya. Tapi pelukan saja tiada guna, sakit dan harus pergi sendiri meninggalkan dunia dan seisinya..

Seppang, cinta itu apa? Cinta itu wujud tatkala diri tahu bahawa akan ada perpisahan di tiap pertemuan tetapi tetap memilih untuk hidup bersama sampai waktunya tiba. Dan kau itulah cinta kami. Setiap hela nafasmu. 

Ujian

Assalamualaikum dan selamat pagi

Sabtu lepas aku ada QTI. Lulusnya cuma di laluan, dalam litar kena ulang. Maka, di sini aku mengulang hari ini. Alhamdulillah, lulus juga akhirnya.

Balik saja dari pra ujian hari tu, kerja ku meng'google' saja. Mencari-cari cerita insan yang serupa macam aku. Kiranya mengubat hati yang kecewa. Hahaha.

Sekarang ni aku pun ndak pasti mau tulis ka ndak pengalaman tu. Ndak payahlah ya, ni pun lulus ni hari sebab bernasib baik ditambah pula pemeriksa yang tidak banyak songeh. Apa yang aku boleh cakap, ada banyak sebab yang boleh menyebabkan kita fail, mungkin faktor external atau mungkin datangnya dari diri kita sendiri, internal. Don't lose hope. Semuanya reflek sama diri kita sendiri juga. Macam mana penerimaan kita, apa respon kita, dan tindakan selanjutnya yang kita ambil.

Kadang-kadang kita sudah siap sedia, tapi ada saja rintangan atau mungkin juga kita rasa belum cukup sedia, tetapi keputusan yang kita dapat boleh jadi di luar expectation.

Just keep in believing.

( orang cakap, setakat test memandu saja pun, tapi apa pun yang berkait pasal hidup ni dari sekecil perkara ke sebesar  perkara, everything happen with a reason.)

Titik persoalannya bukan tentang hasilnya, berjaya /fail. It's about the way you go through untill you meet your ultimate goal. Kau akan rasa sakitnya jatuh, rasa diri tidak berguna, rasa diri bodoh... tetapi sesudah itu bangkitlah.

Lepas ni tunggu giliran pula untuk test Jpj.

(Ada masa sudah sekarang untuk update entry sorotan pembacaan)

Sunday, 26 March 2017

Peran

Selamat petang

Untuk sekian kalinya entry sorotan pembacaan ditangguh lagi.

Seperti biasa, aku singgah untuk menyapa. Berkongsi rasa yang hangatnya adalah dingin.

Ada beberapa episod aku memilih untuk bersembunyi. Aku fikir kita lupa. Rumit konklusinya, aku ada dalam isolasi tetapi tetap menyandang watak. Bukan major pastinya.

Memilih untuk hidup dalam diam tidak sepi seperti yang disangka. Kerna kita ahli dalam masyarakat, yang tidak mungkin melepaskan satu nyawa pergi tanpa secalit coretan. Bagusnya mahupun buruknya kita.

Mulanya aku fikir kerna takutnya aku pada keburukanku. Nyatanya sebagus apa pun orang pandang pada kita kalau kita sendiri tahu betapa buruknya diri sendiri.

Kerna aku percaya setiap diri adalah watak utama bagi hidupnya. Ada watak sampingan yang kita tanda posisinya. Semahu kita letak dimana pentingnya dia dalam hidup kita. Dan kita bisa mengawal baik dan buruknya diri kita. Kerna watak utama matlamat utamanya menemui jalan kebaikan maka kita berusaha menghapuskan kejahatan yang menggoda meski adakalanya kita tewas.

Di satu sudut lain, ternyata kita juga berperanan sebagai watak sampingan dan adakalanya ditandai dengan markah bagus-bagus. Padahal boleh jadi di layar sendiri kita perlu menghadapi pembalasan atas kejahatan tadi.

Jadi, di mana sebenarnya kita? Watak apa yang ingin kita sandang?

Sampai satu detik, baru aku sedar rupanya definisi tiap orang bisa beda-beda. Persepsi dan view juga beda. Tentang apa yang bagus, apa yang buruk.

Kerna sekarang layarku mengalami krisis, apa saja pada layar orang lain bukanlah bidangku. Mana lagi punya waktu menandai watak minor di layarku, siapa pun kalian, semoga dalam kesejahteraan dan perlindungan Allah yang Esa.

Dan siapa pun aku di layar kalian, apa perlu aku peduli sama jalan hidup kalian? Aku fikir aku sudah pergi dengan senyap.

Monday, 20 March 2017

Sebesar apa impianmu?

Selamat malam.

Sebetulnya aku sudah menulis berkenaan sambungan Indonesia Timur Tempo Doeloe tetapi perlu menambah beberapa ayat lagi. Jadi aku tangguh dulu untuk dikongsi di sini.

Jadi aku singgah sebentar untuk menyapa satu dua kata kepada kalian.

Hari ini adalah hari yang panjang. Pelbagai rasa dalam satu hari. Aku pun ndak pasti apa rasa diakhirnya. Ah, syukurlah yang paling tepat. Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Apabila dibelek, ditelek, diteliti jalan hidup selepas tamat belajar, pastilah aku dikira tidak 'berjaya' kalau hendak dibanding dengan rakan seperjuangan yang sudah punya income tetap. Tapi kalau hendak dibanding secara umum, aku dikira beruntung kerana masih mampu untuk terus melakar impian sedangkan di luar sana masih ada yang tidak punya banyak pilihan. Kadang-kadang orang di sekeliling kelihatan terlalu risau sepertinya kita sudah tidak punya harapan, tetapi hakikatnya kita masih punya seribu macam harapan yang dirancang. Kerna hati tidak terbaca oleh orang lain.

Aku sering kali menyangka, aku memahami masyarakatku. Ah, inilah realiti hidup. Sedangkan disebalik semua itu, kadang hidup tidaklah serumit yang disangka. Sejalang sifat manusia, ada terselit fitrah suci yang adakalanya memberi impak impresif. Bahkan, realiti yang diklaim menyebabkan hati menjadi kotor, penuh prasangka. Ya, siapa pun anda jangan pernah menyangka realiti manusia memang begitu kerna boleh jadi itu jalannya anda menyakiti manusia lain.

Sebab itu aku percaya sekali kalau manusia secara umumnya bersifat natural. Cuma keadaan yang menentukan sama ada dia bakal menjadi baik atau jahat. Sesaat, di mana pun, dengan siapa dia, status itu bisa berubah lagi.

Itu sama juga dengan diri. Detik yang paling menggerunkan adalah tatkala kamu berfikir si polan sedemikian dan demikian, padahal kamu sendiri gagal mengenal diri sendiri. Lucu ya, apabila kita mengklaim orang itu berjaya dan yang si itu pula loser hanya berdasarkan sedetik, secubit momen yang kita kongsi dan tahu tentang orang itu. Padahal, after all hidup bukan tentang berapa banyak yang kau miliki/ ke level mana kamu berada melainkan how you face the problem. Kalau begitu saja tanggapanmu, maka pastilah yang lebih banyak memiliki yang bergelar berjaya.

Sebab itu aku berfikir, orang yang berjaya adalah orang yang sedikit memiliki tapi besar rasa syukurnya. Entahlah tapi melihat seorang pakcik tadi yang menyorong kereta sorong berisikan ikan kering dan tin-tin kosong memberikan rasa 'tenang' jika hendak dibanding tatkala melihat orang-orang di lrt pulang dari tempat kerja. Dua rupa yang menggambarkan sebesar apa bahagia yang mereka kejarkan.

Atau mungkin saja aku merupakan orang yang bahagianya mengikut standard sendiri. Customize. Punya rumah kayu kecil, di dalamnya ada pustaka buku dan disekeliling halaman ada pohon menghijau. Ada keluarga kucing dan sekebun sayur, sereban unggas serta sekandang sapi. Punya sumur air dan kolam ikan. Ah, aku punya impian baru, memiliki bukit atau cukup kawasan bertanah tinggi untuk ku daki tiap hari menjemput dan melambai matahari.

Hahaha.

Ini sekadar cerita-cerita. Sudah ada yang tercapai dan ada yang masih belum nampak bayang. Suatu hari nanti. Biiznillah.

Thursday, 16 March 2017

Melangkah untuk kembali

Assalamu'alaikum dan selamat malam.

Tadi siang seorang rakan meminta untuk dicarikan kerja. Dia tinggal di semenanjung. Dan dia bertanya kalau ada kekosongan yang aku maklumi di sini. Estate pun boleh. Guna sijil spm pun boleh.

Dan aku pun punya hasrat serupa.

Alasannya mudah, kerna kami betul-betul hendak kerja. Hendak tanggung beban. Hendak menimba pengalaman. Hendak menjadi diri sendiri.

Walaupun mungkin suatu hari nanti apabila kami berada di tempat yang lebih tinggi, boleh jadi kami lupa momen ini.

Analoginya, sudah dua hari aku berusaha menembusi puncak bukit tertinggi yang ada di kampungku. Dua hari juga aku gagal. Sebenarnya aku sudah jumpa salah satu laluannya tetapi untuk melanjutkan pendakian, ia tidak mampu menempatkanku walau selangkah. Maka aku gelongsor ke bawah. Sakit? Pastilah sudah tinggi aku injaki. Jatuh pula dihempap lagi batu-batu.

Ke bawah, menyelusuri jalan-jalan yang mula2 tadi aku lalui. Ada bekas yang kelihatan ada yang samar-samar. Mana yang jelas aku lanjutkan, yang samar-samar pun aku lanjutkan juga tanpa perlu bertanya-tanya apa benar ini jalannya tadi atau bukan.

Aku mulai lagi dari kaki bukit memulai dakian baru. Gagal lagi. Turun lagi. Cari lagi laluan baru. Gagal lagi. Sampai waktunya aku harus pulang aku pulang. Hari kedua, aku mulai lagi langkah baru. Gagal lagi. Oleh kerna aku mulai lambat dari jam kelmarin, maka bila sampai jam untuk pulang, aku pulang saja. Tanpa perlu berkira-kira seperti hari semalam. Kenapa perlu dilanjutkan masanya, besokkan ada lagi.

Mulanya aku rasa penat. Mahu pengsan. Hampir-hampir putus-asa. Mana lagi kena batu-batu. Malah ada ketikanya aku harus buka kasut sukanku. Berkaki ayam dan menggelongsor ke kaki bukit. Pakaianku dipenuhi debu.

Apa yang aku pelajari dari dua hari ini, apabila sudah berada di tempat tinggi dan harus memulai lagi dari bawah kerna jalan yang mulanya tadi kenampakan rupanya buntu, maka sakit dan takut itu adalah pasti. Realiti. Kadang pandang balik-balik jalan buntu, ah, betapa cantiknya pemandangan di situ tadi. Tinggal sedikit lagi dakian maka aku bisa sampai ke puncak. Tapi untuk sampai ke atas, perlu memulai jalan baru. Menyesal kerna seharusnya mencari laluan baru yg lain sedari awal? Tidaklah. Apa yang hendak dikesalkan? Aku tidak tertinggal apa-apa di puncak setengah itu tadi. Aku malah makin tambah tahu dan pengalaman.

Puncak di bukit itu pasti ada. Jalannya juga tidak satu. Boleh jadi sebenarnya jalan buntu tadi adalah jalannya. Boleh jadi juga jalan-jalan yang aku gagal lepasi tadi. Kerna memandang saja cukup indah maka aku berimpian indah untuk ke puncaknya. Di mana, bila dan dengan cara apa aku bakal sampai, itu masih tanda tanya. Kerna puncak itu bukan sekadar tentang masa depan, ianya seluruh masa yang kita punya. (Perenggan akhir yang perlu diperhati betul-betul).

Tuesday, 14 March 2017

The road navigation does not know but people

Assalamu'alaikum & selamat malam

Baru-baru ini aku memutuskan untuk memilih jalan yang tiada di navigasi. Tetap juga aku belum menemui jawapan 'how should i live' walaupun aku selalu mengharapkan live like Laila Hijjera.

Kontra yang perdana melalui jalan ini adalah menapis pandangan orang. Kalau di highway, masing-masing fokus ke arah destinasi tetapi tidak di jalan kecil ini.

Hampir saja aku memilih untuk bersembunyi lagi tetapi begitulah hidup. Kita melihat dan dilihat. Boleh jadi kita menjadi topik bicara orang, figura kita dirakam oleh lensa mata mereka, dan kita merupakan huruf-huruf di diari hidupnya. Kerna kita juga bertindak sebegitu. Berbicara, merakam dan menulis.

Aku pun sedang berfikir bagaimana untuk tidak terlalu negatif dengan hal itu. Ya, jalan ini bakal aku lalui banyak kali. Dan aku bakal dibicara, dirakam dan ditulis untuk sekian kalinya. Sampai habis calar semua hatiku kerna sakit. Tetapi aku juga bakal membicara, merakam dan menulis perihal orang lain.

Kitaran yang tiada henti.

Lanjutlah. Move on. Kerna jalan ini berliku, uphills and downhills, berlubang dan lopak, aku tidak akan pernah sunyi dari halangan. Hanya keindahan alam yang bakal aku lewati tanpa mahu menyesal di kemudian hari aku memutuskan untuk mengabaikan highway.

Just because I'll used the same road again and again, it does not mean my feelings will get better. Nothing change. The only thing matters is my passion.

Please, look at yourself before bothers of others' perception. You are special on your own colour. Just imagine if you have only one day to be happy, which one would become to your priority? No, you wouldn't have time to think of others' satisfaction.

The choice itself become important since you can't decide what can makes you happy. 

So, please, please be patient.

Remember, You don't want to regret it again that you avoided experiencing the ups and downs... because you were scared before.

(Inspirasi daripada Si Yoon, thank you)

Wednesday, 8 March 2017

Nota: ketika hujan

Assalamu'alaikum dan selamat malam.

(Tarik nafas panjang-panjang)

Aku graduan uia major komunikasi, pengkhususan dalam organizational comm. Kalau orang kampung tanya apa bidang kerjaku nanti, aku pun nda tau mau jawab apa sebab bila aku da bagi jawapan tertentu maka aku bertanggungjawab di atas jawapanku tersebut. Jadi aku jawab tengoklah nanti mana-mana sandar. 😂

Sebenarnya aku tiada niat mau pandang rendah sama 'tahap kefahaman' orang kampungku, tapi mereka cuma kenal jawatan seperti 'cikgu', 'nurse', 'doktor', 'peguam', 'pegawai bank', atau paling umum, 'kerja kerajaan'. I mean, aku ni (sains kemanusiaan) mana masuk dalam senarai yang di atas, mau canang apa sama mereka... maka,
jawapan paling humble sekali, "mana-mana sandar".

Bukan pula kampungku ni terdiri daripada jawatan tersebut tetapi semua yang berjaya dalam kalangan berikut. Dan aku rasa mereka salah faham, meski aku boleh dikira antara yang berjaya dalam kalangan seumuran ku, tetapi generasiku adalah generasi yang bisa masuk universiti dalam jumlah yg ramai tetapi keluarnya tidak menjanjikan tempat selayaknya/seadanya/secukupnya untuk berbakti.

Pengangguran bukanlah satu isu baru. Ia berlaku sejak dahulu lagi. Isu berlangsung, ongoing. Dan aku tidak pernah menyangka kalau aku termasuk dalam golongan tersebut. Penganggur bertauliah. Yang dahsyatnya, aku penerima biasiswa genap 4 tahun.

Aku? Ya, masalahnya terletak pada aku. Entahlah. Selepas tamat belajar, aku rasa mahu rehat sehingga aku konvo (habis belajar bulan 6, konvo bulan11). Selepas konvo aku rasa alang-alang sampai masuk tahun baru. Bila masuk tahun baru, sampai sekarang aku masih berfoya-foya dengan kucing yang sudah 3 generasi di rumahku, dengan buku-buku yang jumlahnya tidak sampai dua ratus tapi belum habis ku baca, dengan kamera yang lensanya selalu aku keluhkan dan semangat hendak kurus yang tumbuh segan mati tak mau (peribahasa yang aku hantam-hantam).

Aku tak tau tentang orang lain, tapi aku tahu benar tentang diriku. Takut ditolak. Rejected. Failed. Disapproved. Dan aku fikir aku berada di zon selesa. Adventure? Thanks, but no thanks.

Walaubagaimanapun,
Hatiku tersentak tatkala melihat anak yang usianya tidak sampai belasan tahun, berhujan-hujan mencari rezeki. Padahal yang pertama muncul di mindaku tatkala melihat sosoknya, hujan =demam. Tidak cukup satu jam dua jam, sampai malam kunjung tiba dia tetap berdiri di tepi jalan raya, menadah tangan.

Analoginya, dia di usia kanak-kanak, tiada sekolah, taraf kewarganegaraan pelarian... aku rasa aku begitu bongkak. Mungkin kita lihat dia peminta-minta, tetapi jauh di sudut hatinya, 'kalau aku punya dewasa, punya sekolah dan punya  nasionaliti, mungkin nasibku tidak sebegini'.

Dan di satu sudut, itu aku berdiri, tidak tahu ke mana hendak dituju.

Maaf.

Maaf.

Maaf.

Maaf.

Kerna dalam status penganggur ini, aku selalu berazam agar suatu hari nanti dapat membantu.

Besoknya, aku bermain dengan kucing-kucingku, buku-bukuku dan kameraku. Ah, aku kan sudah dewasa, graduan dan warganegara (sarcasm).

Bilang 'mana-mana sandar?'