Isnin, 9 November 2015

kucing tak bernama

Assalamualaikum w.b.t.

Kucing adalah antara peliharaan yang kami ada yang kadang ada yang kadang tiada. eh? Maksudku, keadaannya itu tidak berterusan... kadang pergi tanpa berita dan tidak kurang juga yang pergi di depan mata kami, maka kami selalu menjadi persinggahan makhluk ini.

Sampai yang kami punya sekarang, tempohnya bersama kami kalau dihitung belum cukup dua belas bulan, entah kurang berapa, aku juga tidak pasti.
kucing Mahallah Sumayyah, k bidik awal tahun 2015. Tiada copyright, nama kucingnya saja aku tidak tahu. Versi kuak lentang juga ada, tapi tidak dimuat naik, aurat kan. haha. (canda)
 
Foto yang di atas itu, pastilah bukan kucing di rumah kami. Soalnya, kalau yang di rumah tu, ndak da sosok atau figure posing ya. Paling-paling lagi mahu ketip kamera, kucingnya gerak melulu, maju ngesel-ngesel badan ke kita atau langsung ngesel saja ke kamera. Iya, itulah karakter kucing di rumah kami sekarang ini.

Kucing tak bernama.Sudah menghampiri dua belas bulan ia menetap di rumah kami dan aku masih berfikir nama apa yang harus ku berikan ke 'dia'. Kasian ya. Pusing aku mahu bagi nama apa.

Pun begitu, saking manjanya dan mesranya hubungan aku dan si kucing itu, asal kami duduk barang, pasti gigit-gigitan. Iya, Kucing itulah yang menggigitku, mana la aku yang mengigit, luka tu 'dia' nanti. Haha.

Saking manjanya 'dia', kalau mak ku yang menelefon, suaranya 'dia' yang mendominasi. Meow, meow, meow. Aku juga tidak mengerti apa yang cuba dia sampaikan. Tadi, kata mak, masa kami bicara lewat hp (dibaca ha-pe) 'dia' malah maju sambil ngelus-ngelus kepalanya ke hp. Haha. Aku pun apalagi, galak kenakan 'dia', bersuara ngiaw.

meow.
meow.
meow.

Itulah suara-suara rindu yang tak terzahirkan. Atau mungkin saja suara-suara penat dan lelah. Bahasa yang tidak langsung diaju kerna ego. Disebalik meow, ketawa terselit. Menutup bahas perasaan tadi yang bila-bila saja bakal meruntuhkan dinding ego kita.
Norma hidup ini harus dijalani dengan seribu rasa, tiada yang mendominasi, biar nanti hitung-hitung perasaannya berjumlah infinit. Cuma DIA yang tahu nilainya. Ibarat warna-warna pelangi yang variasi berpusat pada satu warna, Putih, maka landaskan angka rasamu pada satu, jiwa kehambaan, itulah syukur.
 
(masih ada hari untuk dijalani, hiduplah)

Ahad, 11 Oktober 2015

tinggal pergi

Assalamualaikum w.b.t. & selamat malam

     Hari ni saya tertinggal buku 'The Alchemist' karya Paulo Coelho di perhentian bas Mahallah Nusaibah. Sekitar jam 12, saya dan Chua menuju keluar membeli barang harian dan kemudiannya kembali ke uia sekitar jam 3. Dalam tempoh itu, tangan saya asing sekali tanpa buku. ceh. Hahaha. Bukan menunjuk, tetapi saya ada masalah untuk tampil di hadapan khalayak, kalau bukan sekadar skrol-skrol hp, saya genggam buku. Adalah teman yang tidak akan khianat dan mungkir, itulah erti buku bagi saya.

     Sesampai kami di bilik, saya baru tersedar kalau fizik buku tu ternyata tiada di beg saya. Haru jadinya. Dalam hujan berangin tadi saya redah ke perhentian bas Nusaibah. Appearance? Sekadar menutup aurat, kawan. "The Alchemist" merupakan salah satu daripada senarai buku yang saya ingin miliki semester ini. Sedikit lagi hati saya goyah, 'ah, beli saja yang baru...' Tapi dalam goyah begitu, kaki saya laju saja melangkah.

     Mujur, ia tetap di situ. Meski rintik-rintik hujan sudah menyapa fiziknya. Kamu tahu, saya tidak kisah kalau buku ini diambil oleh tangan lain kerana saya yakin benar kalau tangan itu merupakan tangan yang selayaknya memilikinya. Yang saya risau kalau buku ini terbiar di situ dan saya terlupa akannya. Dan tiada siapa yang menyelamatkannya. Seperti buku-buku yang terbiar di cafe mahallah. Saya rasa saban semester kalau dikumpul semuanya, boleh buat library sudah. Terlalu banyak buku yang terbiar. Di mana tangan-tangan yang sepatutnya bertanggungjawab akannya? Kenapa khianati dan mungkiri?

Teman baru untuk semester ini sudah bertambah ke angka 22. Mujur dapat bilik serba mega fasilitinya, Dapatla saya muatkan teman-teman ini di satu tempat yang sama. Bakal diterbangkan ke mini library di rumah mak midbreak ini. InsyaAllah.
     

Isnin, 5 Oktober 2015

mengerti

Assalamualaikum & selamat malam

     Jangan pernah berfikir yang kamu memahami seseorang sehinggalah kamu meletakkan diri kamu ke dalam kondisinya. Mungkin, kita beranggapan bahawa kita bisa memahami tetapi besar kemungkinan itu cuma imaginasi. Kenapa saya bilang begitu? Kerana kita datang dari variasi latar belakang , contohnya, saya datang dari masyarakat pekebun kecil sawit tapi belum tentu anak-anak pekebun kecil lainnya bisa memahami kondisi saya bilamana faktor pendidikan dan saiz keluarga diambil kira. Apatah lagi untuk anak kota untuk memahami kondisi kami? saya? 

     Waktu mula-mula menginjakkan kaki ke pengajian tinggi, saya selalu tertanya-tanya kenapa ada dalam kalangan anak pekebun kecil di perkampungan saya yang tidak betah melanjutkan pengajiannya. Kadang ada yang cuma sambung separuh jalan. Apabila berada di situasi itu, baru saya faham, terlalu banyak perkara yang terlalu rumit untuk kami mengerti dan jalani. Bayangkan saja kawan, sampainya kami di sini, anak-anak malah berbicara mengenai jenama-jenama internasional yang ada kalanya kami sendiri tidak tahu menyebutnya. Mujur juga saya dipertemukan dengan teman-teman yang latar belakangnya, bisa ku mengerti. Alhamdulillah. 

     Pantas saja di kampung saya masih ada ibubapa yang tidak memberikan kebebasan untuk anak-anak mereka pergi jauh keluar dari kampung sama ada melanjutkan pengajian mahupun bekerja. Bukan soal menjadi orang sok pintar atau bisa bergaji besar, melainkan mereka takut kalau-kalau anaknya tersasar dari prinsip hidupnya. Kerna ibubapa di kampung saya mengerti kalau saja anaknya hidup jauh dari keluarga, apa saja yang diperbuat semuanya bisa jadi atas pengaruh kawan. Padahal kawan tadi, datangnya dari latar belakang yang beda dengan kami, anak si pekebun kecil. Dan saya amat berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang sentiasa memberikan kepercayaan untuk saya lanjutkan pelajaran di sini. Meskipun sebelumnya penduduk menyangka kalau orang tua saya tidak mungkin membenarkan saya pergi jauh untuk belajar. 'ah, anak satu-satu. mana mungkin dibagi pergi jauh-jauh.'

     Berbalik kepada pokok persoalan di awal perbicaraan tadi, saya tidak bisa mengharapkan pengertian daripada orang lain memandangkan tidak mungkin mereka bisa mengerti kondisi hidup saya. Contohnya, seputar perbicaraan saya lebih tertumpu kepada soal tanah, sawit & masyarakat kampung. Apa boleh buat, saya terdedah kepada hal-hal sebegini memandangkan saya lahir dalam keluarga pekebun kecil.

     Sebagai penutup, fokus hidup lain-lain bergantung kepada kondisi seseorang itu. Analoginya, tatkala anak orang lain berbicara mengenai jenama internasional,  anak si pekebun kecil berbicara mengenai baja apa yang mujarab... bila harga sawit nak naik.. hmm. atau bila geran tanah nak lulus. hmm. #we try so hard to survive

Jumaat, 2 Oktober 2015

malu

Assalamualaikum & selamat malam.

     Kelmarin, saya menemani seorang teman untuk menjaja jajan di kaki lima bangunan kuliah kami, atau lebih tepat lagi di kaki lima kelas kami, di lantai satu itulah. Entah kenapa, ia bukanlah perkara yang asing, tetapi malu menyapa. Kamu tahu, saya bentak banyak kali hati, 'kenapa?'

     Malu?  Kenapa?

    Betapa banyak hal yang diperbuat yang lebih memalukan berbanding menjaja jajan di kaki lima. Apabila diri mengharap pada penilaian sesama makhluk, beginilah jadinya. Walhal, redha Allah la yang patut dicari. Saya rasa bukan setakat ini sahaja, betapa banyak hal lain lagi yang selayaknya diperbuat dengan rasa bangga tapi ditatangi dengan rasa malu. Manusia, bangkit dari lenamu! Selama kau berpegang pada penilaianNya, tiada apa yang bisa memalukanmu. Hal yang baik sepatutnya diraikan. Berhenti membilang nilaimu dihadapan sesama makhluk!

Rabu, 30 September 2015

apologi

Assalamualaikum & salam sayang (hahaha)

     Lama juga menyepi dari laman ni. Ada beberapa komen yang tidak berbalas, ya ampunn.. saya mohon apologi di atas kelalaian saya ini. Semenjak beberapa bulan lepas, saya tumpukan pada hal-hal lain. Mungkin 'bahana' subjek semester lepas menyebabkan saya perlu melarikan diri SEKEJAP dari dunia tulis-tulis ni. *kedua tangan pegang kepala*

     Ada beberapa buku yang sudah saya hadam, tapi tidak berkesempatan untuk dikongsikan intinya. Bahkan buku Gie itupun saya tidak berupaya untuk menyambung sesi terdahulu. Haha. Kerja separuh-separuh, jangan ditiru!

     Perkhabaran yang baik, ah dilema nih, mendapat invitasi (wujud ka istilah tu?) untuk melanjutkan pengajian master di kuliah ICT di IIUM ini juga, tapi masih punya sisa dua semester (termasuk semester ini). Masih panjang waktunya untuk memilih, boleh jadi juga waktu yang cukup untuk menetapkan pendirian. hahaha. Saat ada teman yang istikharah untuk peneman hidup, saya pula masih lagi dengan persoalan yang sama seperti 6 tahun lepas, dimana ni mahu nyambung sekolah?

      Minggu lepas merupakan sambutan eidul adha dan buat sekian kalinya, saya berada di iium. Tapi yang lainnya, ada teman-teman sekali. Selama 4 tahun ni, inilah kali pertama solat sunat eidul adha diadakan pukul 8 pagi. Apalagi, berlari-lari jemaah yang rilek macam saya ni dibuatnya. Haha. Salah sendiri sebenarnya sebab ndak update jam berapa solatnya dimulai (selalunya 8:30 pagi). Tapi, bahaya juga tu, sebab yang solat sunat di masjid iium ni bukan pelajar, staff dan pensyarah saja, tapi penduduk yang berdekatan juga. Sebarang update selalunya sampai dalam pengetahuan warga iium saja. Jadi, ada jugalah kelompok yang tidak dapat solat sunat berjemaah baru-baru ni. Terlepas. 

     Permulaan semester ni agak mendebarkan sebenarnya. Refleksi pada diri. Kerna terlalu biasa duduk di zon selesa, susah sikit pun hati gelisah. Di mana ketenangan dan kesabaran yang dulu? Bersyukur? Semakin berjalan di laluan ini, saat kita bertungkus-lumus memajukan diri, ternyata adakalanya moral diri tidak selaras. Evolusinya bisa menjadikan kita raksasa yang hilang identiti sebagai seorang manusia kerdil. Tapi, perjalanan ini tiada perhentiannya, kena juga teruskan kerna masa terus berdetik. Jadi apa yang mampu diperbuat adalah memperbaiki kesilapan dipertengahan jalan, meskipun tampak terhuyung-hayang, biarlah. Kita ini musafir, berhenti berjalan bila sudah sampai di destinasi yang dituju.

Ba. Sini saja dulu, ya. Jemput tengok foto momen yang sempat di bidik baru-baru ni.
 cukup la tiga keping~ Gambar saya mana? hmmm... next chapter, maybe?  Jaljaaaaa~

Khamis, 4 Jun 2015

rumah bahagia



Kami ditinggalkan lagi
satu demi satu pertemuan kami diakhiri
 
rumah bahagia yang kami bangun
hilang serinya, hilang gah nya
 
kerna perpisahan terlalu pedih
ada yang hidup tapi pergi jauh
dan aku juga
berkira-kira hendak melangkah jauh dari rumah ini
 
mak berkata,
bertahanlah, nak.
kita tetap utuh di rumah ini bukan kerna kita kuat
tapi kerna kita tidak mahu rumah ini runtuh
satu-satunya kenangan yang kita ada.
 
biar kita tetap di sini
biar kalau mereka pulang ada yang sapa
biar mereka tahu bahawa
jauh mana pun mereka pergi, di sini
ada kita yang selalu menanti
 
rumah ini jangan diruntuh.


Sabtu, 16 Mei 2015

warga tak bernegara


Kemanusiaan
kalau kau tidak punya apa-apa
tidak berhak hidup di mana-mana
 
mungkin, tempat kau bukan di bumi
tapi planet yang lapan lagi?
 
saudara?
dunia sudah memisahkan saudara
kau bisa diusir dan dijual
kau bisa dinilaikan dengan wang
yang nilainya jauh lebih murah
dari makhluk lainnya
 
saat saudara senasib mu di Tanah sana
memilih untuk mengangkat senjata
kau malah memilih untuk diseludup
nasib kau taruh
kerna Tanah mu sudah tutup
untuk kelompok minoriti seperti mu
 
mana suara dunia yang mengangkat kata kemanusiaan?
tiada mata simpati
kalau ada pun cuma bersuara di sesawang
prihatin bertambah tapi nasib mu tak ubah
kalau pun hidup
hidup di antara diperbodoh dan memperbodoh
jatuh nilaimu sebagai manusia
 
dunia melahirkan banyak manusia seumpama ku
lontarkan kata kasihan
padahal jauh sekali hulurkan tangan
kerna aku ada identiti nasionalis
aku warga bernegara
 
 

Rabu, 13 Mei 2015

penghujung semester 2 (2014/2015)

Assalamu'alaikum w.b.t.

Kawan, semester bakal berlabuh
kalau panjang umur kita bertemu
kalau kau masih mahu
berkawan denganku.
 
kerna aku tiada apa
yang bisa ku berikan
dan aku tidak pandai berjenaka
bukan pula berharta
apatah lagi menawan
 
pernah.
aku fikir kawan sampai akhirat
rupanya masa berjauhan semuanya tamat.
 
pernah.
aku fikir kami akrab
rupanya aku bosan kerna bersua terlalu kerap.
 
jadi.
tali persahabatan kita entah berapa panjang lagi.
kalau aku pergi, menangiskah kau?
atau kalau kau pergi, menagiskah aku?
 
 
kerna yang disebut sebagai persahabatan itu
terlalu rumit
ada yang bilang ianya kadang muncul
di saat-saat akhir.
saat pertemuan tiada lagi.
yang hangatnya rasa sayang tidak dapat dirasa
tapi wujud.
maka,
dmana pun kau letak hatimu untukku,
aku mohon doakan aku.
 
dalam hidup ini,
kawan pertama ku adalah adikku
selebihnya adalah kawan yang ku anggap adik-beradik.
 
sunyi sungguh hidup
bila kau juga berlalu dari hidupku, kawan,
kosong lagi ruangan ini.
 
Penghujung semester 2/2014/2015.


Selasa, 5 Mei 2015

Catatan seorang demonstran-bahagian satu.

Assalamu'alaikum w.b.t.
 
Belum sampai separuh ku baca buku ini, Catatan seorang demonstran karya Soe Hok Gie. Lantas aku memutuskan untuk menulis sedikit 'experience' membacanya, di mana ia bukan tertuju buat anak muda yang mahu berdemonstrasi tapi mengajar kita untuk menilai diri sendiri yang digelar sebagai mahasiswa/i.
 
Seo Hok Gie sendiri tidak merencana untuk 'menjual' tulisan yang merupakan diarinya ini kerna menurutku, (hasil menonton filemnya GIE), dia orang yang aktif menulis justeru, helaian diari ini fasa satunya sebelum membicarakan buah fikirnya kepada umum.
 
Inilah yang membuatkannya unik berbanding tulisan lain di luar sana kerna tulisannya bukan 'sesuatu yang dirancang' dan wujud unsur kejujuran dan lantang. Unsur yang sukar ditemui di mana-mana tulisan pun.
 
Sebagai anak muda, seorang siswi, aku malu pada Seo Hok Gie, aku seumpama si bodoh yang tidak tahu apa pun. Aku bertanya semula pada diri, apa yang aku fikirkan selama hidup ini? ahh maksud ku secara umumnya tentang kondisi masyarakat? Iya la.. kalau harga naik, aku juga turut mengeluh.. kalau pemimpin korup, aku juga mencemuh... tapi dibaliknya aku cuma punya kosong. Kerna aku generasi yang copy paste. Generasi yang cuma merujuk 'kata-kata' scholars di laman sesawang tanpa berlumba dengan lainnya ke rak buku perpustakaan mencari sumber informasi. (senyum sinis).
 
Ya, aku teringat kata seorang dosen semester ini. Berapa ramai anak muda yang ikut demonstrasi tapi kosong hati dan akalnya? Itu belum kira lagi yang tidak berbuat apa dan juga kosong hati dan akalnya. Kita punya hak untuk berdemonstrasi dan menentang tetapi biar 'berisi'. (Mungkin cuma aku yang begini kerna aku dalam kelompok yang cuma tahu berdiam dan mencelah adakalanya dalam kelompok sendiri).
 
Membaca catatannya Seo Hok Gie, aku tak terbayangkan seperti apa kelompok mahasiswa di zamannya. Aku? Boleh dikatakan 95% kelompokku berada dalam zon 'spiral of silence'. Kami cuma berbicara topic yang sesama kami sepakati dan kalau ada percanggahan, kami memilih untuk berdiam dan menunggu kelompok yang lain untuk meluah dan mengangguk bersama. (tantangannya, tidak kurang yang menjadi keyboard warrior). Kami tidak suka pada budaya berdebat kerna kami temukan ketidakselesaan pada perbedaan pendapat. Aku lihat itu satu kematangan yang dimiliki pada generasi Seo Hok Gie, berbeda tapi bisa duduk berdebat, setidaknya biar tidak cuma 'obses' dengan pengetahuan sendiri.
 
Aku merasakan factor utama kami serupa begini angkara kurangnya ilmu. Ah, bukan kurang cuma tidak praktik kerna apa yang dicatit oleh Seo Hok Gie, majoritinya pernah ku pelajari cuma aku tidak menyimpannya untuk sesuatu yang disimpan dan didebat. Toynbee? Freud? Entah di kertas ujian mana aku tuliskan teori mereka...lebur begitu saja. Aku pun justeru pening sendiri memikirkan apa yang ku pelajari.
 
Apa yang bisa aku simpulkan, kita cenderung untuk membaca perihal yang kita minati dan meninggalkan aspek lainnya yang membuatkan kita terus-terusan jahil akan perkara berlawanan dengan kita. Contoh kalau aku, aku takkan membaca tulisan orang Inggeris kerna aku cenderung pada Asia biarpun nantinya ku baca karya mereka dalam Inggeris juga.
 
Sampai halaman 132, petikan di halaman 121 paling aku pandang, ketika Seo Hok Gie berbicara mengenai pemuda-pemuda di zamannya;
 
"Soalnya bukan suka atau tidak, tapi mereka adalah masa depan, pemimpin-pemimpin Indonesia. Kita harus terangsang dengan kekurangan-kekurangan mereka dan tugas dari generasi yang lebih tua justeru untuk tidak jemu-jemunya berdialog dengan mereka."
 
Dan aku yakin sekali kalau kata-katanya Seo Hok Gie ini mewakili tiap yang bergelar pemuda pada zaman mana pun, termasuklah kita generasi zaman modern ini.
 
Sampai sini dulu tulisanku mengenai buku ini. Ada jodoh dilanjutkan lagi. Salam.

Isnin, 4 Mei 2015

antara siang dan malam



Ada orang yang mahukan siang
kerna  mentari terang
ada orang mahukan malam
kerna gelap dan kecewa
tapi aku mahu keduanya
kerna mimpi bisa di duanya
 
lambaian tangan
seolah berbicara,
'aku baik-baik saja'
'usah menangis terus,'
'majulah ke depan'.
 
dan
aku mahu tidur lagi
berharap untuk bertemu
kerna aku rindu kamu, sayang kamu
 
aku tidak akan memilih di antara siang atau malam
selama mata bisa ku pejam.

Ahad, 3 Mei 2015

Forgotten Country

Assalamu'alaikum w.b.t.
 
Di tiap akhir pembacaan, habitku menulis nama dan sedikit kata-kata bersangkutan pemahaman dan isi yang ku peroleh, padat dan ringkas. Jadinya, bila aku tatap lagi tulisan itu, aku akan ingat keseluruhan cerita, ahh lebih kepada emosiku sebenarnya ketika membaca buku tersebut.
 
Menangis ketika membaca sesebuah buku suatu yang biasa. Tapi buku ini, Forgotten country tulisan Catherine Chung, membuat aku menangis saat aku tulis 'emosi' itu.
 
Aku suka membaca tulisan Indonesia kerna bahasanya terasa dekat. Jujur. Meski lewah, ada keindahan. Tapi buku tulisan Inggeris harus dibaca dalam Inggeris dan memungkinkan aku tertinggal trek pemahaman. Bagi ku buku ini bukan yang ku cari tapi tidak bisa ku tinggal.
 
Seorang teman pernah berkata, 'apa yang kau cari dengan membaca?'
'Tidak tahu. Aku cuma suka  membaca'.
'Mesti tidak kau faham semua?'
Aku angguk.
 
Dan inilah bezanya aku dengan orang-orang pintar di luar sana. Mereka dikurnia akal yang bisa memuat dan mengingat semua inti buku sedang aku cuma bisa membaca. Dan aku juga tidak mengkelaskan diri sebagai peminat sastera kerna aku kosong mengenai itu.
 
Forgotten country bercerita mengenai keluarga Janie, bapa & maknya serta adiknya Hannah yang berpindah ke Amerika. Asal mereka adalah Korea. Jadi, forgotten country d sini, mungkin merujuk kepada Negara kelahirannya, Korea. Mereka pulang ke Korea ketika bapanya mengidap kanser bertujuan  mendapatkan rawatan walaupun mereka sebenarnya sudah tidak berniat untuk kembali. Aku ibaratkan situasi ini dengan Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Baik lagi di negeri sendiri.
 
Ada beberapa babak yang tergantung, mencambah persoalan dalam benak, tetapi tidak banyak. Contohnya apa yang diperbuat Gabe terhadap Hannah dan ketika maknya lari dari rumah. Tapi itu tidak mencacatkan kronologi cerita mereka. Bagiku, cerita ini 90% realitas dan ini sudah cukup baik untuk pembaca sepertiku. Watak kakak kepada bapa Janie (Gimo mereka) sesuatu yang aku akui. (Senyum sinis) Dimana-mana watak ini wujud, makcik yang tiap kali berkunjung akan menyindir iparnya, akan menyindir anak buahnya, yang akan meratap & melolong di hari pemakaman.

Apabila membaca, antara elemen yang ku cari adalah latar masyarakat. Dalam novel ini, ada dua yang terkesan di hati. Pertamanya, masyarakat yang menghargai golongan berilmu. Ini terlihat bagaimana keluarga Janie yang bangga akan pencapaian Janie dan Hannah di mana diwarisi dari ayahnya yang merupakan seorang ahli matematik. Perkataan 'another Baksa in our family..' sesuatu yang tak terungkapkan bagi ku. Aku nilainya sebagai sesuatu yang positif, bagaimana dalam masyarakat (kelompok kecil-keluarga besar) mengimpikan generasi berilmu dalam kalangan mereka. Keduanya masyarakat pendakwah yang tergambar jelas pada watak makcik kepada Janie (Gimo). Penulis menggunakan ganti diri pertama (sebagai Janie) menggambarkan satu sudut perspektif dari pihak yang didakwah. Aku terima gambaran ibaratnya begini, 'dasar orang sok alim-taik kucing'.. well, ini bukan gambaran universal melainkan watak personal makcik kepada Janie itu sendiri yang membuat aku pun naik geram, tapi tidak sampai kepada benci. Dari sudut lainnya, aku belajar bagaimana untuk mendekati yang didakwah tanpa paksaan.
 
Dari sudut dunia pelajar, watak Janie dan Hannah sudah cukup mewakilkan dunia pelajar selayaknya bagaimana. Dan aku puji mereka sanggup study leave sementara menjaga bapa mereka yang sakit. Aku cemburu sekali peranan mereka di situ banding dengan aku yang cuma punya sehari menemani hari akhir bapa. Malah aku tidak pernah menemaninya ke hospital. Tidak sekali pun.
 
Cuma, kontranya aku dengan watak Janie & Hannah, mereka pergi meninggalkan ibunya. Meski aku akui, aku sekarang ini tiada beza dari tindakannya mereka, jauh dari rumah dan memori bapa, demi menuntut ilmu. Tapi aku tidak mengakui kalau aku jauh kerna mahu lari dari memori, aku tidak lari.
 
...
 
 
 
 
"Pak, kehilangan terbesarku saat kau pergi, dan aku akan ingat betul tiap detik itu. Tiada satu pun akan ku hapus. Biar sedih dan pahit macam mana pun. Itu kerna itu adalah kamu. Memori terakhir aku menatap bapa." Itu perenggan akhir 'emosi' ku di halaman forgotten country.
 

Sabtu, 25 April 2015

tanpa tajuk : episod rindu pada bapak & Ilmi

Assalamualaikum w.b.t.

pengecutkah aku
tersungkur jatuh pada kenangan lalu
tanpa mampu untuk bangkit maju
 
puas sudah menangis
menderitai
pada kehilangan dan pergi
pertemuan yang tiada kembali
 
 
pendustakah aku
menerima kisah termaktub
padahal tiap ujian aku melutut
menangis sendiri, bicara padaMu
kalau aku sebenarnya tidak mampu
 
kata mak,
'kerna kita insan yang kuat...'
 
padahal
aku menangis ini.
 
justeru kita insan kerdil
yang pasti menangis
pada luka kecil.


Khamis, 23 April 2015

episod hati harus kuat- rindukan bapa

 
Rinduku pada bapa
tidak dimengerti pada diri
sampaikan aku harus bertanya
kenapa menangis lagi?
 
 
dan aku ingin bertanya lagi
sejauh mana kasihku padanya?
aku fikir aku terlalu rindu
tapi aku juga merasakan semakin jauh
jadi, aku ini benar merindukan bapa?
 
 
aku menangis tatkala rindu menerpa
sampai satu masa aku pas kan
rindu saja mesti menagis
jadi bukan pedih, aku menangis,
demi menawarkan kerinduan?
 
 
pada hati yang tersangkakan terluka
disentap pada tiap kerinduan
harus terus kuat
kerna rindukan bapa tiada noktahnya
sampai saat dipertemukan semula
moga rindu ini mengajarkan
untuk menghargai pada tiap momen dulu yang tiada tergantikan.

Our happy Time

Assalamualaikum w.b.t.

Selepas membaca novel tulisan penulis korea tersebut berjudul 'Our Happy Time', lama aku termenung. Berfikir dan membilang, juga bertanya pada diri, sejauh itukah dendam dan sedih yang terperangkap dalam diri? Tidak, setidaknya aku punya cinta meski akhirnya ditinggalkan pergi.
 
Tapi....
Aku seolah memahami situasi itu, kedua peran sungguh mengemosikan. Hampir aku mengutuki diri, 'ah, apa kau tahu,Laila'.
 
Tapi....
Ini juga bukan bermakna kisah ku cuma sekadar sedih yang biasa. Tuhan tidak mungkin menguji di luar kemampuan hambaNya. Maknanya, tiap dari kita diberi ujian setimpal dengan kemampuan kita. Aku, ini limit ku. Begitu juga dia. Ya, kadang saat melihat orang senang kita berfikir betapa untung orang senang itu, padahal ada perkara yang dia juga tidak tertanggungkan. Dan saat melihat orang susah yang lain, kita jatuh kasihan pada nasib malangnya, padahal kesusahannya itu sesuatu yang dia menangkan, bisa tertanggungkan. Adilkan hidup ini?
 
Hiduplah semampumu. Justeru syukurlah yang kau patut ada. Susah dan senang itu tidak bermakna tanpa rasa syukur. Kelompokkan keduanya, tiada mampu setanding syukur.
 
Aku tidak punya contoh kisah menginspirasi yang bisa ku jaja, tapi ada cerita yang sentiasa ku simpan, kisahnya nenda. Ibunya mak ku, seingatku tidak pernah mengecap bahagia sehingga dia meninggal. Bahagia di sini indikatornya harta dunia. Kata orang, kais pagi makan pagi, kais petang makan petang. Justeru itu, bukan soal pendidikan anak-anaknya yang jadi keutamaan semasa hidupnya. Betapa ramai anak yang memberi alasan bahawa kurang kasih sayang punca hidup mereka hancur tapi itu tidak terlihat pada mak. Kerna aku tahu, dibalik semua itu, dia juga tahu kalau tiada apa yang bisa diperlakukan oleh nenda, kerna  hidup juga suatu perjuangan manakan pula hendak mengejar material di dunia ini. Pendek kata, untuk terus hidup itu sendiri tujuan penghidupan mereka dan selebihnya bukan lagi tumpuan. Disebabkan itu, tiada istilah pengumpulan harta yang melonggok melainkan membahagi-bahagi apa yang sekadar dia ada kepada tiap yang dia rasakan perlu untuk dikongsikan. Semuanya. Justeru aku lihat mak. Kebahagiaan mak sekarang ini adalah aku. Aku lulus ujian, aku dapat ijazah, aku sudah bekerja, itu merupakan saat manis yang ditunggu-tunggu mak. Meski aku cuma satu-satunya. Nenda pula? Entah. Aku juga kadang gagal membaca kamus hidupnya. Entah apa yang dia tunggu selama hidupnya. Membahagi bahagia? Bahagia yang dia peroleh dari kais pagi makan pagi dan kais petang makan petang.
 
Mungkin, kita fikir, kitalah paling susah sekarang ini, tapi dunia susah bukan berpusat pada kita saja. Susah itu subjektif. Kadang terlalu merasa senang bisa memanjakan diri juga terlalu lama berpaut pada kesusahan juga bisa membosankan. Sesusah apa pun, pasti ada bahagia yang tersedia buat kita. Pasti. Mungkin kita terlepas pandang, cuma toleh satu dua tiga kali. Kalau-kalau mungkin bahagia itu ada menanti tapi kita lewati.
 
Ya Tuhan,
dua hero kami telah Engkau jemput kembali
mana mungkin kami lupakan kasih
yang tiada terbanding
tapi kami juga tidak menyesali
kerna saat itu termanis
dan kami tidak meminta lebih lagi
cukuplah dengan apa yang kami miliki
moga tetap terus mencari cinta Mu Ilahi.
 
 

Ahad, 8 Mac 2015

wajah dan kaus


Gigil aku melihat
semua arah:
depan,belakang, tepi kiri dan kanan

genggam tangan
pucat meski tidak dingin

dunia sungguh menakutkan
pada wajah mulus padahal pembohong
atau cuma kaus baik-baik
realitinya carik,robak,koyak.

berpaling
mencari sosok alam, penenang
supaya pandangan tadi hilang
tidak mengekor ku pulang.

hai semanusia,
begitu pun cerita terus jalan
mana yang sempat, taubat
atau sedetik dua detik insaf
kemudian, lagi buat
sampe kita dipanggilNya, Tuhan.

Gigil lagi aku 
seakan meniru rentak goncangan LRT 
sekejap ke kiri, sekejap ke kanan,depan kemudian belakang
berdiri di tepi pintu ini
aku seakan menengok jalan hidup 
bila aku sampe di destinasi
ada yang baru memulai perjalanan.

ah, kamu si wajah tadi
bila aku langkahkan kaki keluar
bole jadi ini benar destinasi akhirku
tinggalkan buruan wajahmu

mungkin, wajah itu bisa kau tukarkan semulusnya
dan kausmu itu sungguh cantik.

Khamis, 5 Mac 2015

menoleh ke belakang

Assalamualaikum w.b.t.


Buku ni tinggi sedikit bahasanya buat aku. Haha. Terkapai-kapai aku hendak cuba faham. Almaklum vocab kurang. Ia merupakan kumpulan cerpen yang berlatarbelakangkan Jepun pada zaman perang dunia kedua berserta bermulanya pengenalan kebaratan. Sudah pasti la aku tidak akan buat analisis berkenaan isi buku ni. Cuma refleksi diri,

Apa yang aku dapat daripada pembacaan kali ini adalah mengenal sejarah nenek moyang sendiri. Sejarah yang kita belajar dalam teks cuma fakta, cerita dan jalan hidup masyarakat yang melaluinya tidak sampai pada kita. Itu yang aku rasa. Kita tahu waktu perang dulu susah nak cari makan, hidup dalam pelarian dan macam-macam kesulitan lagi tapi kita tiada 'kisah' yang bisa buat kita imagin waktu tu dengan lebih dekat. Paling tidak pun, imaginasi kita lebih berfigura seperti yang dipaparkan dalam media, mungkin drama, filem dan sebahagiannya dokumentari.

Antara episod yang menarik perhatianku dalam buku ni adalah ketika munculnya westernization. Contoh paling dekat makanan dan pemakaian. Aku masih ingat, mak aku pernah cerita kalau waktu kecilnya dulu, gula-gula karek mereka diperbuat daripada gula merah (air nira). Itu makanan ringan mereka dulu-dulu. Sekarang segala macam produk makanan ringan yang ada. Kalau bab pakaian, daripada pembacaan ku di beberapa buah buku karya seberang, ternyata kaum bugis sering dikaitkan dengan sarung, golongan orang yang berkerudung. Sekarang? Gadis desa sudah tidak akrab dengan sarung.

Anyway, aku sedikit cemburu dengan penulis kerna mampu menulis beberapa kisah yang buat kita 'balik' ke zaman dulu. Banyak perkara yang kita boleh belajar daripada kisah dulu-dulu. Tiba-tiba aku rasa kelewatan, semasa bapa masih hidup, tidak pernah pula aku tanya kondisi hidup masyarakat zaman itu di sul sel. Cuma kata seperti 'gerilya', 'kahar muzakarr', 'bahar mataliu' amat sinonim di pendengaran tetapi tidak tahu hujung pangkal perbicaraan. Padahal sekarang baru tercari-cari sumber bacaan yang berkaitan, malah perlu mengirim buku dari kawan seberang. Kasihan kau Laila! Aku generasi yang meninggalkan tradisi mengenal sejarah melalui mulut ke mulut. Aku cuma percaya bulat pada buku teks yang pastinya mengenalkan aku pada kejagoan barat.

Mauki dengar cerita moyang ku yang masih tersisa sampai di pengetahuanku? Begini kawan, kononnya, datuk mak ku dulu tinggal di kawasan bukit yang disebut sebagai Saweng. Pada waktu itu, terkenal dengan pasukan gerilya yang hidup bersembunyi dan nomad. Kadang-kadang, mereka datangi rumah datukku untuk minta dimasakkan makanan. Aku mendapat tahu kalau dua belah moyang dan nenekku pernah memasak untuk gerilya. Aku tidak tahu sama ada mereka menyokong atau terpaksa. Itu saja yang ku tahu. Lain, dua-dua nenekku punya anak yang ramai tapi kebanyakkannya mati ketika masih bayi lagi. Pernah nenek Dentamalu (sebelah mak) beranak ketika masyarakat sul sel dalam pelarian mencari tempat bersembunyi, bayinya mati ditempat kejadian dan cuma dikubur begitu saja dan lari lagi mencari tempat perlindungan. Lagi, arwah datuk ku, ayah kepada bapaku rupanya mati dibunuh oleh siapa, aku juga tidak tahu siapa, kononnya disebabkan surat. Dia diminta untuk memberikan surat kepada siapa dan daripada siapa juga aku tidak tahu. Cuma yang ku tahu, beberapa hari selepas berita pembunuhannya cuma kepalanya saja yang ditemui. Tragis.Sebelum dia pergi (sebelum pembunuhan) dia sempat berpesan kalau-kalau dia mungkin tidak mungkin balik lagi (mungkin dia tahu surat yang tidak disampaikan itu bakal menjadi penyebab kepada pembunuhannya).

Aku sukakan sejarah. Bukan pasal keagungan atau zaman kegemilangan. Aku cuma mahu tahu keazaman dan semangat juang yang ada pada mereka. Kondisi masyarakat. Struggle untuk meneruskan hidup, itu yang aku mahu tahu. Untuk apa?  cara perjuangan orang terdahulu tidak dapat diaplikasikan dengan zaman sekarang tetapi 'semangat' perjuangan yang perlu kita warisi agar kita tidak menjadi warga dijajah sepanjang waktu. Itu yang kita kurang juga mungkin tidak ada. Kita terlalu jauh tertinggal di belakang, entah apa yang kita contribute kan kepada generasi akan datang setelah tidak belajar apa-apa daripada generasi sebelum kita.

Rabu, 4 Mac 2015

Ibu, Doa yang Hilang

Assalamualaikum w.b.t.


Karya Pak Bagas ni, benar-benar buat aku memikirkan tentang aku. Aku yang hidup bersama mak yang ibu tunggal. Semuanya bagai imbas balik kehidupan kami tanpa bapa. Meskipun tidak serupa tapi dasarnya sama, kami kehilangan tunggak rumah tangga, itulah bapa.

Isinya biasa saja, tapi cukup menginspirasi insan seperti aku. Kisah benar tidak perlu penuh liku, jalan hidup itu sendiri jadi pelajaran buat kita. Aku juga berharap dapat berjaya seperti penulis, dan suatu masa nanti aku punya giliran pula menulis jalan cerita hidupku. Insha Allah.

Meskipun kronologi buku ini tidak ikut urutan, tapi asal saja kita ikuti perkembangan ceritanya, tiada masalah untuk memahami. Asal tidak hilang trek.

Aku jatuh cinta saat baca bait  ini " Bukankah Tuhan yang memilihku untuk menghantarmu ke dunia ini. Maka, jika aku mendampingimu dalam mengarunginya, itu bagian tugas muliaku." Terus saja ia masuk senarai buku yang ingin ku miliki, Alhamdulillah hasil bantuan seorang teman kepada temannya yang pulang sebentar menjenguk keluarga di seberang, sampai juga buku ini kepada ku.

Kamu tahu, aku sampai sekarang dan mungkin saja sampai bila-bila tidak mampu untuk memahami hati dan fikiran mak. Tidak akan pernah. Aku juga yakin Pak Bagas juga begitu. Tapi sedikit pemahaman pun kita bisa menangis apalagi untuk memahami semuanya, kita tidak akan bakal mampu. Pun begitu, aku masih dengan ego ku berharap untuk hidup selalu bersama mak.

Dialog ku sama mak :
 
"Jangan sia-siakan belajar mu, nak"
"Iya, Indo".
"Jangan bilang iya saja."
"Aduh Indo, abis diam juga ndak boleh. Dijawab iya pula ndak percaya"
"Betul nak, mamak bukan apa, jangan biarkan apa pun mengganggu belajar mu. Itukan amanah bapa mu? Jadi bapa sudah tiada, mamak la yang ganti tugasnya untuk pastikan kamu benar-benar berjaya"

Kerna amanah itu aku berada di sini. Impian seorang bapa tanpa sempat melihat hasilnya. Aku pula masih berada di tengah lapangan, mencari-cari arah harus ke mana. Aku buntu. Keliru. Ego. Kadang aku juga berfikir kalau aku berada di sini adalah suatu keajaiban kerna aku tidak nampak di mana kelebihan ku untuk terus berada di sini. Kalau orang lain berada di sini menjual buah fikiran mereka, berusaha keras menambah pengetahuan dan bermimpi untuk capai level lagi tinggi, aku kenapa masih berdiri diam? Jual apa? menambah apa? mimpi apa? nol. sifar, kawan.

Tapi, mengalah saja aku takut. Kalah aku sama mak. Dia jangankan kuliah, lanjut sekolah menengah pun tidak pernah, tapi tidak pernah gentar dan ragu kalau aku bisa berjaya. Jadi orang pintar. Sekolah tinggi-tinggi, miliki akhlak yang mulia dan bantu orang yang susah. Doa seorang mak.

" Doa seorang ibu adalah percikan *sinyal bagi Tuhan, bahwa ada seorang anak manusia yang sedang membutuhkan perhatianNya" [Bagas D.B.]

*aku assume sinyal tu as signal. kalau salah mohon diperbetulkan.

Menghitung tahun berapa lama lagi harus mak menunggu untuk melihat anaknya terima segulung ijazah. Insha Allah. Kalau mak pun tidak pernah jemu menunggu kenapa harus kita yang mengeluh? Siapa bilang belajar kerja mudah? Ini jalan jihad. Tiada mudah.

bye. merenung kembali masa silam. tidak mungkin patah balik. teruslah ke hadapan walau yang menunggu cuma lumpur dan lecak.

Khamis, 26 Februari 2015

sem lepas dan sekarang

Assalamu'alaikum w.b.t.

Sudah agak lama tidak tulis-tulis sini: berteriak, bercerita & berangan-angan.
Kalau dibelek-belek album lama, semester lepas, aku banyak berjalan.
Tidak juga banyak betul. Cuma banyak daripada selalu.

Semester lepas, ada beberapa peristiwa yang tidak terlupakan.
hmmm
antaranya membangunkan kawan-kawan sebilik seawal 4 subuh kerana plug bilik terbakar.
hahaha
Kalau ingat lagi ke'mamai'an kawan-kawan masa tu... alhamdulillah nasib juga tidak terbakar bilik kami. Litar pintas 'kecilan' saja?
hmmmm

Keduanya, impian belum tercapai lagi. Aku bercita-cita untuk dapat duduk di barisan hadapan masa grad nanti. Bercita-cita. Meskipun aku tahu, mak aku pun tak faham 'erti' duduk depan tu. Yang dia tahu, belajar betul-betul. Tapi, sebagai anak kampung, aku perlu sokongan biaya kalau hendak lanjut lagi. Kena lanjut lagi sebelum pulang ke lubuk, berkongsi ilmu dan pengalaman dengan orang-orang kami. Orang kampung.

Ketiganya, melewati setahun pemergian bapa pada 3 Januari bukanlah suatu yang perlu disebut-sebut. Sebutlah sebanyak mana pun, pedih dan sedihnya tetap sama. Kita yang merasa. Kita yang rindu. Kita yang berharap. Biar cuma dalam mimpi. Al-Fatihah

Sebelumnya, 3 November, entah tahun yang keberapa pemergian arwah adik. Boleh kata, hilang sudah rasa dimakan masa. Tapi kami rindu. Sakit. Tinggal cerita sama yang diulang-ulang banyak kali dengan harapan, moga-moga nanti tiada terlupakan. Cerita yang tinggal separuh.

Antara keinginan semester ini untuk terus berkongsi cerita kampus dan juga opini ku. Semester ini banyak masa aku tumpukan pada pembacaan. Beberapa karya Indonesia sudah dimiliki termasukla buku-buku Pak Pram. Beberapa buah buku berlatarkan zaman Jepun. Aku terpaksa meminta tolong daripada rakan punya rakan yang berpergian ke Indonesia atau melayari website yang menjual buku Indonesia. Boleh rujuk bookooville.com.

Aku suka baca. Kata orang, baca buku banyak ilmu. Aku pun berharap begitu. InsyaAllah. Tapi aku tahu, aku benar-benar orang yang bahagianya kerana dapat baca buku tanpa perlu dipadankan dengan luasnya pengetahuan. Memiliki mini perpustakaan di rumah adalah impian ku. Aku juga punya impian pelik iaitu berlancong ke Penang supaya dapat ke Bazar Chowrasta atau berkunjung ke Jakarta dan Bandung sekadar untuk ke toko buku.

Aku rasa semester ni aku akan aktif buat ulasan untuk sebahagian buku yang ku baca. Untuk masa yang terdekat mungkin buku karya Pak Bagas, Ibu, doa yang hilang.

Perihal fotografi pula, mungkin akan beraksi tapi sekadar untuk menghabiskan masa lapang.

Sudah la. nda da idea suda.
Salam.

p/s: mencari idea untuk buat iklan. hmmm.