Sabtu, 16 Mei 2015

warga tak bernegara


Kemanusiaan
kalau kau tidak punya apa-apa
tidak berhak hidup di mana-mana
 
mungkin, tempat kau bukan di bumi
tapi planet yang lapan lagi?
 
saudara?
dunia sudah memisahkan saudara
kau bisa diusir dan dijual
kau bisa dinilaikan dengan wang
yang nilainya jauh lebih murah
dari makhluk lainnya
 
saat saudara senasib mu di Tanah sana
memilih untuk mengangkat senjata
kau malah memilih untuk diseludup
nasib kau taruh
kerna Tanah mu sudah tutup
untuk kelompok minoriti seperti mu
 
mana suara dunia yang mengangkat kata kemanusiaan?
tiada mata simpati
kalau ada pun cuma bersuara di sesawang
prihatin bertambah tapi nasib mu tak ubah
kalau pun hidup
hidup di antara diperbodoh dan memperbodoh
jatuh nilaimu sebagai manusia
 
dunia melahirkan banyak manusia seumpama ku
lontarkan kata kasihan
padahal jauh sekali hulurkan tangan
kerna aku ada identiti nasionalis
aku warga bernegara
 
 

Rabu, 13 Mei 2015

penghujung semester 2 (2014/2015)

Assalamu'alaikum w.b.t.

Kawan, semester bakal berlabuh
kalau panjang umur kita bertemu
kalau kau masih mahu
berkawan denganku.
 
kerna aku tiada apa
yang bisa ku berikan
dan aku tidak pandai berjenaka
bukan pula berharta
apatah lagi menawan
 
pernah.
aku fikir kawan sampai akhirat
rupanya masa berjauhan semuanya tamat.
 
pernah.
aku fikir kami akrab
rupanya aku bosan kerna bersua terlalu kerap.
 
jadi.
tali persahabatan kita entah berapa panjang lagi.
kalau aku pergi, menangiskah kau?
atau kalau kau pergi, menagiskah aku?
 
 
kerna yang disebut sebagai persahabatan itu
terlalu rumit
ada yang bilang ianya kadang muncul
di saat-saat akhir.
saat pertemuan tiada lagi.
yang hangatnya rasa sayang tidak dapat dirasa
tapi wujud.
maka,
dmana pun kau letak hatimu untukku,
aku mohon doakan aku.
 
dalam hidup ini,
kawan pertama ku adalah adikku
selebihnya adalah kawan yang ku anggap adik-beradik.
 
sunyi sungguh hidup
bila kau juga berlalu dari hidupku, kawan,
kosong lagi ruangan ini.
 
Penghujung semester 2/2014/2015.


Selasa, 5 Mei 2015

Catatan seorang demonstran-bahagian satu.

Assalamu'alaikum w.b.t.
 
Belum sampai separuh ku baca buku ini, Catatan seorang demonstran karya Soe Hok Gie. Lantas aku memutuskan untuk menulis sedikit 'experience' membacanya, di mana ia bukan tertuju buat anak muda yang mahu berdemonstrasi tapi mengajar kita untuk menilai diri sendiri yang digelar sebagai mahasiswa/i.
 
Seo Hok Gie sendiri tidak merencana untuk 'menjual' tulisan yang merupakan diarinya ini kerna menurutku, (hasil menonton filemnya GIE), dia orang yang aktif menulis justeru, helaian diari ini fasa satunya sebelum membicarakan buah fikirnya kepada umum.
 
Inilah yang membuatkannya unik berbanding tulisan lain di luar sana kerna tulisannya bukan 'sesuatu yang dirancang' dan wujud unsur kejujuran dan lantang. Unsur yang sukar ditemui di mana-mana tulisan pun.
 
Sebagai anak muda, seorang siswi, aku malu pada Seo Hok Gie, aku seumpama si bodoh yang tidak tahu apa pun. Aku bertanya semula pada diri, apa yang aku fikirkan selama hidup ini? ahh maksud ku secara umumnya tentang kondisi masyarakat? Iya la.. kalau harga naik, aku juga turut mengeluh.. kalau pemimpin korup, aku juga mencemuh... tapi dibaliknya aku cuma punya kosong. Kerna aku generasi yang copy paste. Generasi yang cuma merujuk 'kata-kata' scholars di laman sesawang tanpa berlumba dengan lainnya ke rak buku perpustakaan mencari sumber informasi. (senyum sinis).
 
Ya, aku teringat kata seorang dosen semester ini. Berapa ramai anak muda yang ikut demonstrasi tapi kosong hati dan akalnya? Itu belum kira lagi yang tidak berbuat apa dan juga kosong hati dan akalnya. Kita punya hak untuk berdemonstrasi dan menentang tetapi biar 'berisi'. (Mungkin cuma aku yang begini kerna aku dalam kelompok yang cuma tahu berdiam dan mencelah adakalanya dalam kelompok sendiri).
 
Membaca catatannya Seo Hok Gie, aku tak terbayangkan seperti apa kelompok mahasiswa di zamannya. Aku? Boleh dikatakan 95% kelompokku berada dalam zon 'spiral of silence'. Kami cuma berbicara topic yang sesama kami sepakati dan kalau ada percanggahan, kami memilih untuk berdiam dan menunggu kelompok yang lain untuk meluah dan mengangguk bersama. (tantangannya, tidak kurang yang menjadi keyboard warrior). Kami tidak suka pada budaya berdebat kerna kami temukan ketidakselesaan pada perbedaan pendapat. Aku lihat itu satu kematangan yang dimiliki pada generasi Seo Hok Gie, berbeda tapi bisa duduk berdebat, setidaknya biar tidak cuma 'obses' dengan pengetahuan sendiri.
 
Aku merasakan factor utama kami serupa begini angkara kurangnya ilmu. Ah, bukan kurang cuma tidak praktik kerna apa yang dicatit oleh Seo Hok Gie, majoritinya pernah ku pelajari cuma aku tidak menyimpannya untuk sesuatu yang disimpan dan didebat. Toynbee? Freud? Entah di kertas ujian mana aku tuliskan teori mereka...lebur begitu saja. Aku pun justeru pening sendiri memikirkan apa yang ku pelajari.
 
Apa yang bisa aku simpulkan, kita cenderung untuk membaca perihal yang kita minati dan meninggalkan aspek lainnya yang membuatkan kita terus-terusan jahil akan perkara berlawanan dengan kita. Contoh kalau aku, aku takkan membaca tulisan orang Inggeris kerna aku cenderung pada Asia biarpun nantinya ku baca karya mereka dalam Inggeris juga.
 
Sampai halaman 132, petikan di halaman 121 paling aku pandang, ketika Seo Hok Gie berbicara mengenai pemuda-pemuda di zamannya;
 
"Soalnya bukan suka atau tidak, tapi mereka adalah masa depan, pemimpin-pemimpin Indonesia. Kita harus terangsang dengan kekurangan-kekurangan mereka dan tugas dari generasi yang lebih tua justeru untuk tidak jemu-jemunya berdialog dengan mereka."
 
Dan aku yakin sekali kalau kata-katanya Seo Hok Gie ini mewakili tiap yang bergelar pemuda pada zaman mana pun, termasuklah kita generasi zaman modern ini.
 
Sampai sini dulu tulisanku mengenai buku ini. Ada jodoh dilanjutkan lagi. Salam.

Isnin, 4 Mei 2015

antara siang dan malam



Ada orang yang mahukan siang
kerna  mentari terang
ada orang mahukan malam
kerna gelap dan kecewa
tapi aku mahu keduanya
kerna mimpi bisa di duanya
 
lambaian tangan
seolah berbicara,
'aku baik-baik saja'
'usah menangis terus,'
'majulah ke depan'.
 
dan
aku mahu tidur lagi
berharap untuk bertemu
kerna aku rindu kamu, sayang kamu
 
aku tidak akan memilih di antara siang atau malam
selama mata bisa ku pejam.

Ahad, 3 Mei 2015

Forgotten Country

Assalamu'alaikum w.b.t.
 
Di tiap akhir pembacaan, habitku menulis nama dan sedikit kata-kata bersangkutan pemahaman dan isi yang ku peroleh, padat dan ringkas. Jadinya, bila aku tatap lagi tulisan itu, aku akan ingat keseluruhan cerita, ahh lebih kepada emosiku sebenarnya ketika membaca buku tersebut.
 
Menangis ketika membaca sesebuah buku suatu yang biasa. Tapi buku ini, Forgotten country tulisan Catherine Chung, membuat aku menangis saat aku tulis 'emosi' itu.
 
Aku suka membaca tulisan Indonesia kerna bahasanya terasa dekat. Jujur. Meski lewah, ada keindahan. Tapi buku tulisan Inggeris harus dibaca dalam Inggeris dan memungkinkan aku tertinggal trek pemahaman. Bagi ku buku ini bukan yang ku cari tapi tidak bisa ku tinggal.
 
Seorang teman pernah berkata, 'apa yang kau cari dengan membaca?'
'Tidak tahu. Aku cuma suka  membaca'.
'Mesti tidak kau faham semua?'
Aku angguk.
 
Dan inilah bezanya aku dengan orang-orang pintar di luar sana. Mereka dikurnia akal yang bisa memuat dan mengingat semua inti buku sedang aku cuma bisa membaca. Dan aku juga tidak mengkelaskan diri sebagai peminat sastera kerna aku kosong mengenai itu.
 
Forgotten country bercerita mengenai keluarga Janie, bapa & maknya serta adiknya Hannah yang berpindah ke Amerika. Asal mereka adalah Korea. Jadi, forgotten country d sini, mungkin merujuk kepada Negara kelahirannya, Korea. Mereka pulang ke Korea ketika bapanya mengidap kanser bertujuan  mendapatkan rawatan walaupun mereka sebenarnya sudah tidak berniat untuk kembali. Aku ibaratkan situasi ini dengan Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Baik lagi di negeri sendiri.
 
Ada beberapa babak yang tergantung, mencambah persoalan dalam benak, tetapi tidak banyak. Contohnya apa yang diperbuat Gabe terhadap Hannah dan ketika maknya lari dari rumah. Tapi itu tidak mencacatkan kronologi cerita mereka. Bagiku, cerita ini 90% realitas dan ini sudah cukup baik untuk pembaca sepertiku. Watak kakak kepada bapa Janie (Gimo mereka) sesuatu yang aku akui. (Senyum sinis) Dimana-mana watak ini wujud, makcik yang tiap kali berkunjung akan menyindir iparnya, akan menyindir anak buahnya, yang akan meratap & melolong di hari pemakaman.

Apabila membaca, antara elemen yang ku cari adalah latar masyarakat. Dalam novel ini, ada dua yang terkesan di hati. Pertamanya, masyarakat yang menghargai golongan berilmu. Ini terlihat bagaimana keluarga Janie yang bangga akan pencapaian Janie dan Hannah di mana diwarisi dari ayahnya yang merupakan seorang ahli matematik. Perkataan 'another Baksa in our family..' sesuatu yang tak terungkapkan bagi ku. Aku nilainya sebagai sesuatu yang positif, bagaimana dalam masyarakat (kelompok kecil-keluarga besar) mengimpikan generasi berilmu dalam kalangan mereka. Keduanya masyarakat pendakwah yang tergambar jelas pada watak makcik kepada Janie (Gimo). Penulis menggunakan ganti diri pertama (sebagai Janie) menggambarkan satu sudut perspektif dari pihak yang didakwah. Aku terima gambaran ibaratnya begini, 'dasar orang sok alim-taik kucing'.. well, ini bukan gambaran universal melainkan watak personal makcik kepada Janie itu sendiri yang membuat aku pun naik geram, tapi tidak sampai kepada benci. Dari sudut lainnya, aku belajar bagaimana untuk mendekati yang didakwah tanpa paksaan.
 
Dari sudut dunia pelajar, watak Janie dan Hannah sudah cukup mewakilkan dunia pelajar selayaknya bagaimana. Dan aku puji mereka sanggup study leave sementara menjaga bapa mereka yang sakit. Aku cemburu sekali peranan mereka di situ banding dengan aku yang cuma punya sehari menemani hari akhir bapa. Malah aku tidak pernah menemaninya ke hospital. Tidak sekali pun.
 
Cuma, kontranya aku dengan watak Janie & Hannah, mereka pergi meninggalkan ibunya. Meski aku akui, aku sekarang ini tiada beza dari tindakannya mereka, jauh dari rumah dan memori bapa, demi menuntut ilmu. Tapi aku tidak mengakui kalau aku jauh kerna mahu lari dari memori, aku tidak lari.
 
...
 
 
 
 
"Pak, kehilangan terbesarku saat kau pergi, dan aku akan ingat betul tiap detik itu. Tiada satu pun akan ku hapus. Biar sedih dan pahit macam mana pun. Itu kerna itu adalah kamu. Memori terakhir aku menatap bapa." Itu perenggan akhir 'emosi' ku di halaman forgotten country.