Ahad, 11 Oktober 2015

tinggal pergi

Assalamualaikum w.b.t. & selamat malam

     Hari ni saya tertinggal buku 'The Alchemist' karya Paulo Coelho di perhentian bas Mahallah Nusaibah. Sekitar jam 12, saya dan Chua menuju keluar membeli barang harian dan kemudiannya kembali ke uia sekitar jam 3. Dalam tempoh itu, tangan saya asing sekali tanpa buku. ceh. Hahaha. Bukan menunjuk, tetapi saya ada masalah untuk tampil di hadapan khalayak, kalau bukan sekadar skrol-skrol hp, saya genggam buku. Adalah teman yang tidak akan khianat dan mungkir, itulah erti buku bagi saya.

     Sesampai kami di bilik, saya baru tersedar kalau fizik buku tu ternyata tiada di beg saya. Haru jadinya. Dalam hujan berangin tadi saya redah ke perhentian bas Nusaibah. Appearance? Sekadar menutup aurat, kawan. "The Alchemist" merupakan salah satu daripada senarai buku yang saya ingin miliki semester ini. Sedikit lagi hati saya goyah, 'ah, beli saja yang baru...' Tapi dalam goyah begitu, kaki saya laju saja melangkah.

     Mujur, ia tetap di situ. Meski rintik-rintik hujan sudah menyapa fiziknya. Kamu tahu, saya tidak kisah kalau buku ini diambil oleh tangan lain kerana saya yakin benar kalau tangan itu merupakan tangan yang selayaknya memilikinya. Yang saya risau kalau buku ini terbiar di situ dan saya terlupa akannya. Dan tiada siapa yang menyelamatkannya. Seperti buku-buku yang terbiar di cafe mahallah. Saya rasa saban semester kalau dikumpul semuanya, boleh buat library sudah. Terlalu banyak buku yang terbiar. Di mana tangan-tangan yang sepatutnya bertanggungjawab akannya? Kenapa khianati dan mungkiri?

Teman baru untuk semester ini sudah bertambah ke angka 22. Mujur dapat bilik serba mega fasilitinya, Dapatla saya muatkan teman-teman ini di satu tempat yang sama. Bakal diterbangkan ke mini library di rumah mak midbreak ini. InsyaAllah.
     

Isnin, 5 Oktober 2015

mengerti

Assalamualaikum & selamat malam

     Jangan pernah berfikir yang kamu memahami seseorang sehinggalah kamu meletakkan diri kamu ke dalam kondisinya. Mungkin, kita beranggapan bahawa kita bisa memahami tetapi besar kemungkinan itu cuma imaginasi. Kenapa saya bilang begitu? Kerana kita datang dari variasi latar belakang , contohnya, saya datang dari masyarakat pekebun kecil sawit tapi belum tentu anak-anak pekebun kecil lainnya bisa memahami kondisi saya bilamana faktor pendidikan dan saiz keluarga diambil kira. Apatah lagi untuk anak kota untuk memahami kondisi kami? saya? 

     Waktu mula-mula menginjakkan kaki ke pengajian tinggi, saya selalu tertanya-tanya kenapa ada dalam kalangan anak pekebun kecil di perkampungan saya yang tidak betah melanjutkan pengajiannya. Kadang ada yang cuma sambung separuh jalan. Apabila berada di situasi itu, baru saya faham, terlalu banyak perkara yang terlalu rumit untuk kami mengerti dan jalani. Bayangkan saja kawan, sampainya kami di sini, anak-anak malah berbicara mengenai jenama-jenama internasional yang ada kalanya kami sendiri tidak tahu menyebutnya. Mujur juga saya dipertemukan dengan teman-teman yang latar belakangnya, bisa ku mengerti. Alhamdulillah. 

     Pantas saja di kampung saya masih ada ibubapa yang tidak memberikan kebebasan untuk anak-anak mereka pergi jauh keluar dari kampung sama ada melanjutkan pengajian mahupun bekerja. Bukan soal menjadi orang sok pintar atau bisa bergaji besar, melainkan mereka takut kalau-kalau anaknya tersasar dari prinsip hidupnya. Kerna ibubapa di kampung saya mengerti kalau saja anaknya hidup jauh dari keluarga, apa saja yang diperbuat semuanya bisa jadi atas pengaruh kawan. Padahal kawan tadi, datangnya dari latar belakang yang beda dengan kami, anak si pekebun kecil. Dan saya amat berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang sentiasa memberikan kepercayaan untuk saya lanjutkan pelajaran di sini. Meskipun sebelumnya penduduk menyangka kalau orang tua saya tidak mungkin membenarkan saya pergi jauh untuk belajar. 'ah, anak satu-satu. mana mungkin dibagi pergi jauh-jauh.'

     Berbalik kepada pokok persoalan di awal perbicaraan tadi, saya tidak bisa mengharapkan pengertian daripada orang lain memandangkan tidak mungkin mereka bisa mengerti kondisi hidup saya. Contohnya, seputar perbicaraan saya lebih tertumpu kepada soal tanah, sawit & masyarakat kampung. Apa boleh buat, saya terdedah kepada hal-hal sebegini memandangkan saya lahir dalam keluarga pekebun kecil.

     Sebagai penutup, fokus hidup lain-lain bergantung kepada kondisi seseorang itu. Analoginya, tatkala anak orang lain berbicara mengenai jenama internasional,  anak si pekebun kecil berbicara mengenai baja apa yang mujarab... bila harga sawit nak naik.. hmm. atau bila geran tanah nak lulus. hmm. #we try so hard to survive

Jumaat, 2 Oktober 2015

malu

Assalamualaikum & selamat malam.

     Kelmarin, saya menemani seorang teman untuk menjaja jajan di kaki lima bangunan kuliah kami, atau lebih tepat lagi di kaki lima kelas kami, di lantai satu itulah. Entah kenapa, ia bukanlah perkara yang asing, tetapi malu menyapa. Kamu tahu, saya bentak banyak kali hati, 'kenapa?'

     Malu?  Kenapa?

    Betapa banyak hal yang diperbuat yang lebih memalukan berbanding menjaja jajan di kaki lima. Apabila diri mengharap pada penilaian sesama makhluk, beginilah jadinya. Walhal, redha Allah la yang patut dicari. Saya rasa bukan setakat ini sahaja, betapa banyak hal lain lagi yang selayaknya diperbuat dengan rasa bangga tapi ditatangi dengan rasa malu. Manusia, bangkit dari lenamu! Selama kau berpegang pada penilaianNya, tiada apa yang bisa memalukanmu. Hal yang baik sepatutnya diraikan. Berhenti membilang nilaimu dihadapan sesama makhluk!