Isnin, 9 November 2015

kucing tak bernama

Assalamualaikum w.b.t.

Kucing adalah antara peliharaan yang kami ada yang kadang ada yang kadang tiada. eh? Maksudku, keadaannya itu tidak berterusan... kadang pergi tanpa berita dan tidak kurang juga yang pergi di depan mata kami, maka kami selalu menjadi persinggahan makhluk ini.

Sampai yang kami punya sekarang, tempohnya bersama kami kalau dihitung belum cukup dua belas bulan, entah kurang berapa, aku juga tidak pasti.
kucing Mahallah Sumayyah, k bidik awal tahun 2015. Tiada copyright, nama kucingnya saja aku tidak tahu. Versi kuak lentang juga ada, tapi tidak dimuat naik, aurat kan. haha. (canda)
 
Foto yang di atas itu, pastilah bukan kucing di rumah kami. Soalnya, kalau yang di rumah tu, ndak da sosok atau figure posing ya. Paling-paling lagi mahu ketip kamera, kucingnya gerak melulu, maju ngesel-ngesel badan ke kita atau langsung ngesel saja ke kamera. Iya, itulah karakter kucing di rumah kami sekarang ini.

Kucing tak bernama.Sudah menghampiri dua belas bulan ia menetap di rumah kami dan aku masih berfikir nama apa yang harus ku berikan ke 'dia'. Kasian ya. Pusing aku mahu bagi nama apa.

Pun begitu, saking manjanya dan mesranya hubungan aku dan si kucing itu, asal kami duduk barang, pasti gigit-gigitan. Iya, Kucing itulah yang menggigitku, mana la aku yang mengigit, luka tu 'dia' nanti. Haha.

Saking manjanya 'dia', kalau mak ku yang menelefon, suaranya 'dia' yang mendominasi. Meow, meow, meow. Aku juga tidak mengerti apa yang cuba dia sampaikan. Tadi, kata mak, masa kami bicara lewat hp (dibaca ha-pe) 'dia' malah maju sambil ngelus-ngelus kepalanya ke hp. Haha. Aku pun apalagi, galak kenakan 'dia', bersuara ngiaw.

meow.
meow.
meow.

Itulah suara-suara rindu yang tak terzahirkan. Atau mungkin saja suara-suara penat dan lelah. Bahasa yang tidak langsung diaju kerna ego. Disebalik meow, ketawa terselit. Menutup bahas perasaan tadi yang bila-bila saja bakal meruntuhkan dinding ego kita.
Norma hidup ini harus dijalani dengan seribu rasa, tiada yang mendominasi, biar nanti hitung-hitung perasaannya berjumlah infinit. Cuma DIA yang tahu nilainya. Ibarat warna-warna pelangi yang variasi berpusat pada satu warna, Putih, maka landaskan angka rasamu pada satu, jiwa kehambaan, itulah syukur.
 
(masih ada hari untuk dijalani, hiduplah)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan