Ahad, 8 Mac 2015

wajah dan kaus


Gigil aku melihat
semua arah:
depan,belakang, tepi kiri dan kanan

genggam tangan
pucat meski tidak dingin

dunia sungguh menakutkan
pada wajah mulus padahal pembohong
atau cuma kaus baik-baik
realitinya carik,robak,koyak.

berpaling
mencari sosok alam, penenang
supaya pandangan tadi hilang
tidak mengekor ku pulang.

hai semanusia,
begitu pun cerita terus jalan
mana yang sempat, taubat
atau sedetik dua detik insaf
kemudian, lagi buat
sampe kita dipanggilNya, Tuhan.

Gigil lagi aku 
seakan meniru rentak goncangan LRT 
sekejap ke kiri, sekejap ke kanan,depan kemudian belakang
berdiri di tepi pintu ini
aku seakan menengok jalan hidup 
bila aku sampe di destinasi
ada yang baru memulai perjalanan.

ah, kamu si wajah tadi
bila aku langkahkan kaki keluar
bole jadi ini benar destinasi akhirku
tinggalkan buruan wajahmu

mungkin, wajah itu bisa kau tukarkan semulusnya
dan kausmu itu sungguh cantik.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan