Khamis, 23 April 2015

Our happy Time

Assalamualaikum w.b.t.

Selepas membaca novel tulisan penulis korea tersebut berjudul 'Our Happy Time', lama aku termenung. Berfikir dan membilang, juga bertanya pada diri, sejauh itukah dendam dan sedih yang terperangkap dalam diri? Tidak, setidaknya aku punya cinta meski akhirnya ditinggalkan pergi.
 
Tapi....
Aku seolah memahami situasi itu, kedua peran sungguh mengemosikan. Hampir aku mengutuki diri, 'ah, apa kau tahu,Laila'.
 
Tapi....
Ini juga bukan bermakna kisah ku cuma sekadar sedih yang biasa. Tuhan tidak mungkin menguji di luar kemampuan hambaNya. Maknanya, tiap dari kita diberi ujian setimpal dengan kemampuan kita. Aku, ini limit ku. Begitu juga dia. Ya, kadang saat melihat orang senang kita berfikir betapa untung orang senang itu, padahal ada perkara yang dia juga tidak tertanggungkan. Dan saat melihat orang susah yang lain, kita jatuh kasihan pada nasib malangnya, padahal kesusahannya itu sesuatu yang dia menangkan, bisa tertanggungkan. Adilkan hidup ini?
 
Hiduplah semampumu. Justeru syukurlah yang kau patut ada. Susah dan senang itu tidak bermakna tanpa rasa syukur. Kelompokkan keduanya, tiada mampu setanding syukur.
 
Aku tidak punya contoh kisah menginspirasi yang bisa ku jaja, tapi ada cerita yang sentiasa ku simpan, kisahnya nenda. Ibunya mak ku, seingatku tidak pernah mengecap bahagia sehingga dia meninggal. Bahagia di sini indikatornya harta dunia. Kata orang, kais pagi makan pagi, kais petang makan petang. Justeru itu, bukan soal pendidikan anak-anaknya yang jadi keutamaan semasa hidupnya. Betapa ramai anak yang memberi alasan bahawa kurang kasih sayang punca hidup mereka hancur tapi itu tidak terlihat pada mak. Kerna aku tahu, dibalik semua itu, dia juga tahu kalau tiada apa yang bisa diperlakukan oleh nenda, kerna  hidup juga suatu perjuangan manakan pula hendak mengejar material di dunia ini. Pendek kata, untuk terus hidup itu sendiri tujuan penghidupan mereka dan selebihnya bukan lagi tumpuan. Disebabkan itu, tiada istilah pengumpulan harta yang melonggok melainkan membahagi-bahagi apa yang sekadar dia ada kepada tiap yang dia rasakan perlu untuk dikongsikan. Semuanya. Justeru aku lihat mak. Kebahagiaan mak sekarang ini adalah aku. Aku lulus ujian, aku dapat ijazah, aku sudah bekerja, itu merupakan saat manis yang ditunggu-tunggu mak. Meski aku cuma satu-satunya. Nenda pula? Entah. Aku juga kadang gagal membaca kamus hidupnya. Entah apa yang dia tunggu selama hidupnya. Membahagi bahagia? Bahagia yang dia peroleh dari kais pagi makan pagi dan kais petang makan petang.
 
Mungkin, kita fikir, kitalah paling susah sekarang ini, tapi dunia susah bukan berpusat pada kita saja. Susah itu subjektif. Kadang terlalu merasa senang bisa memanjakan diri juga terlalu lama berpaut pada kesusahan juga bisa membosankan. Sesusah apa pun, pasti ada bahagia yang tersedia buat kita. Pasti. Mungkin kita terlepas pandang, cuma toleh satu dua tiga kali. Kalau-kalau mungkin bahagia itu ada menanti tapi kita lewati.
 
Ya Tuhan,
dua hero kami telah Engkau jemput kembali
mana mungkin kami lupakan kasih
yang tiada terbanding
tapi kami juga tidak menyesali
kerna saat itu termanis
dan kami tidak meminta lebih lagi
cukuplah dengan apa yang kami miliki
moga tetap terus mencari cinta Mu Ilahi.
 
 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan