Selasa, 5 Mei 2015

Catatan seorang demonstran-bahagian satu.

Assalamu'alaikum w.b.t.
 
Belum sampai separuh ku baca buku ini, Catatan seorang demonstran karya Soe Hok Gie. Lantas aku memutuskan untuk menulis sedikit 'experience' membacanya, di mana ia bukan tertuju buat anak muda yang mahu berdemonstrasi tapi mengajar kita untuk menilai diri sendiri yang digelar sebagai mahasiswa/i.
 
Seo Hok Gie sendiri tidak merencana untuk 'menjual' tulisan yang merupakan diarinya ini kerna menurutku, (hasil menonton filemnya GIE), dia orang yang aktif menulis justeru, helaian diari ini fasa satunya sebelum membicarakan buah fikirnya kepada umum.
 
Inilah yang membuatkannya unik berbanding tulisan lain di luar sana kerna tulisannya bukan 'sesuatu yang dirancang' dan wujud unsur kejujuran dan lantang. Unsur yang sukar ditemui di mana-mana tulisan pun.
 
Sebagai anak muda, seorang siswi, aku malu pada Seo Hok Gie, aku seumpama si bodoh yang tidak tahu apa pun. Aku bertanya semula pada diri, apa yang aku fikirkan selama hidup ini? ahh maksud ku secara umumnya tentang kondisi masyarakat? Iya la.. kalau harga naik, aku juga turut mengeluh.. kalau pemimpin korup, aku juga mencemuh... tapi dibaliknya aku cuma punya kosong. Kerna aku generasi yang copy paste. Generasi yang cuma merujuk 'kata-kata' scholars di laman sesawang tanpa berlumba dengan lainnya ke rak buku perpustakaan mencari sumber informasi. (senyum sinis).
 
Ya, aku teringat kata seorang dosen semester ini. Berapa ramai anak muda yang ikut demonstrasi tapi kosong hati dan akalnya? Itu belum kira lagi yang tidak berbuat apa dan juga kosong hati dan akalnya. Kita punya hak untuk berdemonstrasi dan menentang tetapi biar 'berisi'. (Mungkin cuma aku yang begini kerna aku dalam kelompok yang cuma tahu berdiam dan mencelah adakalanya dalam kelompok sendiri).
 
Membaca catatannya Seo Hok Gie, aku tak terbayangkan seperti apa kelompok mahasiswa di zamannya. Aku? Boleh dikatakan 95% kelompokku berada dalam zon 'spiral of silence'. Kami cuma berbicara topic yang sesama kami sepakati dan kalau ada percanggahan, kami memilih untuk berdiam dan menunggu kelompok yang lain untuk meluah dan mengangguk bersama. (tantangannya, tidak kurang yang menjadi keyboard warrior). Kami tidak suka pada budaya berdebat kerna kami temukan ketidakselesaan pada perbedaan pendapat. Aku lihat itu satu kematangan yang dimiliki pada generasi Seo Hok Gie, berbeda tapi bisa duduk berdebat, setidaknya biar tidak cuma 'obses' dengan pengetahuan sendiri.
 
Aku merasakan factor utama kami serupa begini angkara kurangnya ilmu. Ah, bukan kurang cuma tidak praktik kerna apa yang dicatit oleh Seo Hok Gie, majoritinya pernah ku pelajari cuma aku tidak menyimpannya untuk sesuatu yang disimpan dan didebat. Toynbee? Freud? Entah di kertas ujian mana aku tuliskan teori mereka...lebur begitu saja. Aku pun justeru pening sendiri memikirkan apa yang ku pelajari.
 
Apa yang bisa aku simpulkan, kita cenderung untuk membaca perihal yang kita minati dan meninggalkan aspek lainnya yang membuatkan kita terus-terusan jahil akan perkara berlawanan dengan kita. Contoh kalau aku, aku takkan membaca tulisan orang Inggeris kerna aku cenderung pada Asia biarpun nantinya ku baca karya mereka dalam Inggeris juga.
 
Sampai halaman 132, petikan di halaman 121 paling aku pandang, ketika Seo Hok Gie berbicara mengenai pemuda-pemuda di zamannya;
 
"Soalnya bukan suka atau tidak, tapi mereka adalah masa depan, pemimpin-pemimpin Indonesia. Kita harus terangsang dengan kekurangan-kekurangan mereka dan tugas dari generasi yang lebih tua justeru untuk tidak jemu-jemunya berdialog dengan mereka."
 
Dan aku yakin sekali kalau kata-katanya Seo Hok Gie ini mewakili tiap yang bergelar pemuda pada zaman mana pun, termasuklah kita generasi zaman modern ini.
 
Sampai sini dulu tulisanku mengenai buku ini. Ada jodoh dilanjutkan lagi. Salam.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan