Isnin, 5 Oktober 2015

mengerti

Assalamualaikum & selamat malam

     Jangan pernah berfikir yang kamu memahami seseorang sehinggalah kamu meletakkan diri kamu ke dalam kondisinya. Mungkin, kita beranggapan bahawa kita bisa memahami tetapi besar kemungkinan itu cuma imaginasi. Kenapa saya bilang begitu? Kerana kita datang dari variasi latar belakang , contohnya, saya datang dari masyarakat pekebun kecil sawit tapi belum tentu anak-anak pekebun kecil lainnya bisa memahami kondisi saya bilamana faktor pendidikan dan saiz keluarga diambil kira. Apatah lagi untuk anak kota untuk memahami kondisi kami? saya? 

     Waktu mula-mula menginjakkan kaki ke pengajian tinggi, saya selalu tertanya-tanya kenapa ada dalam kalangan anak pekebun kecil di perkampungan saya yang tidak betah melanjutkan pengajiannya. Kadang ada yang cuma sambung separuh jalan. Apabila berada di situasi itu, baru saya faham, terlalu banyak perkara yang terlalu rumit untuk kami mengerti dan jalani. Bayangkan saja kawan, sampainya kami di sini, anak-anak malah berbicara mengenai jenama-jenama internasional yang ada kalanya kami sendiri tidak tahu menyebutnya. Mujur juga saya dipertemukan dengan teman-teman yang latar belakangnya, bisa ku mengerti. Alhamdulillah. 

     Pantas saja di kampung saya masih ada ibubapa yang tidak memberikan kebebasan untuk anak-anak mereka pergi jauh keluar dari kampung sama ada melanjutkan pengajian mahupun bekerja. Bukan soal menjadi orang sok pintar atau bisa bergaji besar, melainkan mereka takut kalau-kalau anaknya tersasar dari prinsip hidupnya. Kerna ibubapa di kampung saya mengerti kalau saja anaknya hidup jauh dari keluarga, apa saja yang diperbuat semuanya bisa jadi atas pengaruh kawan. Padahal kawan tadi, datangnya dari latar belakang yang beda dengan kami, anak si pekebun kecil. Dan saya amat berterima kasih kepada kedua orang tua saya yang sentiasa memberikan kepercayaan untuk saya lanjutkan pelajaran di sini. Meskipun sebelumnya penduduk menyangka kalau orang tua saya tidak mungkin membenarkan saya pergi jauh untuk belajar. 'ah, anak satu-satu. mana mungkin dibagi pergi jauh-jauh.'

     Berbalik kepada pokok persoalan di awal perbicaraan tadi, saya tidak bisa mengharapkan pengertian daripada orang lain memandangkan tidak mungkin mereka bisa mengerti kondisi hidup saya. Contohnya, seputar perbicaraan saya lebih tertumpu kepada soal tanah, sawit & masyarakat kampung. Apa boleh buat, saya terdedah kepada hal-hal sebegini memandangkan saya lahir dalam keluarga pekebun kecil.

     Sebagai penutup, fokus hidup lain-lain bergantung kepada kondisi seseorang itu. Analoginya, tatkala anak orang lain berbicara mengenai jenama internasional,  anak si pekebun kecil berbicara mengenai baja apa yang mujarab... bila harga sawit nak naik.. hmm. atau bila geran tanah nak lulus. hmm. #we try so hard to survive

Tiada ulasan:

Catat Ulasan