Isnin, 12 Disember 2016

Ilmi

Assalamu'alaikum w.b.t. dan selamat subuh

Empat hari lepas, untuk sekian kalinya mengenang ulang tahun kelahiran Ilmi atau Emmi, arwah adikku yang telah pergi menemui Tuhan. (Al-Fatihah)

Sebenarnya aku tidak peka dengan tarikhnya, tapi semenjak tamat kuliah, aku semakin ingat tentangnya. Sewaktu dulu, tiap kali menyambut hari raya, aku akan duduk di beranda rumah atau duduk diam di bilikku, mencari masa dan ruang menyendiri agar berusaha untuk menangis. Berusaha. Memaksa. Sebab waktu itu aku berfikir, kalau aku tidak menangis pasti Emmi berasa disisihkan (betrayed). Mungkin dalam setahun boleh dihitung berapa kali aku teringat kenangan kami, tapi paling tidak pun setahun sekali aku pasti berusaha mengingat biar senang air mataku keluar. Serius, nih.
Haha.

Walaupun tiap kali menulis tentang Ilmi, aku pasti akan menangis dengan sendirinya. Suatu perasaan yang tak terungkapkan. Rindulah pasti.

Now, I am trying to remember any story of Ilmi. ................... ya ampun.....hmmm.... sudah ku cerita di post yang lepas-lepas.

Ahh. Semenjak kecil mak selalu membuat perbandingan antara kami berdua. Sebab tu waktu kecil dulu kadang-kadang aku berimaginasi kalau-kalau aku sebenarnya an adopted child to my parents. Haha. I still remember that kind of feeling: memberontak. Hakikatnya kami berdua memang bagaikan bumi dengan langit. Ilmi, dia seorang yang penyayang dan belas kasihan. Tiap kali dia melewati kaki lima kedai, dia tidak akan berganjak selagi mak tidak hulur duit ke orang yang meminta di situ. Aku pula, cuma berlalu pergi. Sebab masa tu aku cuma tahu tidak berganjak dari tempat benda yang aku hendak beli. Kurang perhatian terhadap sekeliling. That's me.

Kucing? Ilmi lah orang yang paling sayang kucing dalam keluarga kami. Aku dan mak baru berjinak dengan kucing selepas pemergian bapa. Maka sekarang sejumlah 16 ekor semuanya kami bersama.

ah, Ilmi, after all, I love you more than you love me.

Sudah lama kita tidak bersua, Emmi.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan