Khamis, 6 April 2017

Tidak punya

Assalamu'alaikum dan selamat pagi

Bangkit dari tidur, apa saja yang kau ingin capai hari ini? Atau dalam sehari, berapa banyak kali kau menambah nombor di wishlist mu?

Pernahkah kau terfikir untuk mengurangi apa yang telah kau miliki?

Paling tidak pun, kau hanya memangkah huruf-huruf wishlist mu setelah kau cuba dengan sedaya upaya yang kau mampu. Never give up. Itulah yang kita diajarkan sedari kecil, jangan mengalah in Pursuit of your happiness. Padahal kita sendiri sulit memutuskan apa erti bahagia dalam hidup kita sehinggakan apa yang dikejari sudah tidak jelas dan kita menjadi diri yang kita sendiri tidak kenal.

Seperti kisah dalam cerpen Tolstoy, 'How much Land does a Man Need', seorang petani kaya yang tidak puas dengan tanah pertanian yang dimilikinya. Suatu hari, dia ditawarkan seluas apa pun tanah yang dia mahu  dengan syarat dia harus berjalan mulai mentari terbit dan harus kembali sebelum matahari terbenam. Setiap tanah yang dia jalani menjadi miliknya kemudian. Namun begitu, disebabkan ketamakan petani tadi, dia  terus berjalan dan berjalan meskipun tenaganya semakin berkurang dan akhirnya ketika dalam perjalanan untuk kembali ke tempat mulai tadi dia jatuh dan akhirnya mati. Maka, usahanya sudah menjadi sia-sia.

Tapi, kitalah petani itu. Kita berjalan dan berjalan dengan pantas untuk mencapai impian kita. Selesai satu, ada lagi satu. Satu dan satu lagi. Sampai saatnya kita kembali kita kandas di pertengahan. Kosong. Sifar.

Impian yang tiada berkesudahan. Orang kata, hidup biar bermatlamat tetapi saat kita memulai perjalanan kita dulu, apakah matlamatnya sama seperti sekarang? Kalau iya, kenapa tatkala kita capai apa yang kita hajati, kita tidak sebahagia yang kita sangka? Atau kita bahagia tetapi kenapa kita terus lagi mengejar kebahagiaan lain? Apa kebahagiaan itu tidak boleh cukup hanya dengan satu? Soalnya bahagia kita itu apa, di mana?

Aku selalu menyangka bahawa orang yang punyai dan miliki banyak atau lebih adalah orang yang bahagia. Tetapi setelah menginjaki usia ini, ternyata orang yang paling bahagia ialah orang yang sedikit miliknya tetapi tetap merasa bahagia. Sedikit saja dia sudah bahagia. Berbanding dengan kita yang perlu dibeli dengan wang dan material baru merasa bahagia.

Lihatlah Moken tribe dan orang bajau laut... hidup mereka tidak bergantung dengan materialistik meskipun sedikit atau mungkin tiada yang peduli dengan erti hidup mereka. Paling tidak pun, sekiranya mereka itu hidupnya susah kerna wang itu kerna majoriti masyarakat dunia yang mendefinisikan mereka. Mungkin, sedikit masa lagi mereka juga kita palitkan dengan virus materialistik dan keduniaan. Kerna dunia sudah terjajah oleh orang-orang yang mendefinisi bahagia berdasarkan kuantiti. Bebas merdekalah bagi mereka yang mengangkat panji kualiti hidup yang tahu bahagianya terletak di mana.

Aku pernah menghadiri satu talk yang isinya lebih kurang point ku ini. Kemudiannya, seorang pelajar menulis, apakah harus semua pelajar yang berasal dari kampung pulang ke lubuk masing-masing dan menjalani hidup sebagai biasa-biasa. Bercucuk tanam, menternak dan hidup kampungan. Aku pun tidak pasti. Kerna dunia yang kita pijak sekarang telah diserahkan kepada kita tatkala dunia sudah tidak mendefinisi bahagia seperti maksud asalnya. Dunia yang kita punya sekarang mendefinisi bahagia sebagai wang, pangkat, kuasa dan harta. Kiranya, di mana pun kau berada sekarang, telusuri bahagiamu. Kalau kau rasa kau sudah sampai, berhentilah jangan terlajak dan terbabas. Kerna jalan kembali boleh jadi kabut memenuhi.

When we look back at old times, we definitely can find our true happiness but why we tend to walk away from it now?

Tiada ulasan:

Catat Ulasan