Selasa, 2 Disember 2014

Angka dua puluh tiga

Assalamualaikum w.b.t.

Beberapa hari yang lalu, mencapai usia 23 tahun dilahirkan bunda. Macam tahun sebelumnya, tiada apa yang hendak 'dihebohkan' atau sebarang 'kejutan' kerana budaya kami di rumah cuma ucap 'terima kasih'. Sebetulnya, aku yang mempraktikkan begitu. Cuma apabila tiba 'hari ibu' atau 'hari bapa' maka barulah ada sedikit hadiah ku hulurkan. Meraikan. 

Aku ingat lagi dua orang teman pernah membelikan sepotong kek. Aku kekok berhadapan situasi seperti itu. Budaya yang asing sekali bagiku. 

Cuma kali ini, aku teruja untuk mendapatkan bok-bok yang bunda belikan dari tanah seberang. Meski bunda sudah pandai bicara, bilangnya, "hadiah sempena ulang tahunmu nak, bok-bok ini. pulang liburan nanti saja baru dapat ya?"

Aduh, asalkan bok, aku tidak berkira. Sampaikan dibilang sempena ulang tahun, aku tidak persoalkan. 

Bunda, beda kami cuma lima belas tahun, ditanyai aku, "sudah berapa umur mu, nak?"

"dua puluh tiga mak."

"besar sekali angkanya. Bunda dulu sudah punya kamu dan adikmu, si Emmi."

"Kapan nikahmu, nak?" soalnya.

"aduh, mak! bilang abiskan dulu sekolahku, kan? Nanti saja kita fikirkan itu." Elakku.

Aku arif sekali kalau-kalau bunda teringin sekali tahu apa yang tersirat di sanubariku. Begini kawan, sepeninggalan bapaku awal tahun ini, entah dari mana, semangat baruku tiba, aku katakan pada diri, kalau aku harus menikah dengan segera. Waktu itu, aku butuhkan keselamatan fizikal dan batin. Aku selalu berfikiran kalau aku sudah tiada, bunda juga tiada, ke mana jalur keturunan kami? Terhenti begitu saja? Bagaimana dengan peninggalan pusaka keluarga yang bermula dengan generasiku? Terhenti bigitu saja keringat bapa membuka kebun kecil kami? Adakah jadi perebutan keluarga-keluarga jauh yang lain? haha aku berbicara seolah pusaka itu besar, tapi kawan, nama pun hasil keringat, jerit perit bapa dan bunda, besar nilainya. 

Sampaikan, apabila aku bertemu dengan insan yang lahir dengan berlatarbelakang sepertiku, anak tunggal, punya keturunan baik-baik, menuntut jauh ilmu agama, punya ekonomi kukuh, punya keluarga yang sudah kami kenali sejak lama dulu, aku jadi terus berkata pada hati, "Inilah dia. Dia inilah orangnya." 

Yakin sekali aku. Sampai aku katakan pada bunda, "mak, nanti Ela mahu menikah, kalau dapat biar sebelum habis belajar". 

*kelu*

Inilah proses kematanganku. Aku malah tidak menyesal pernah berfikir seperti itu. Kita berhak untuk memilih jalan hidup yang mana. 

"Fikir dulu, nak. Kahwin bukan soal bahagia saja"

Aku teruskan kuliah seperti biasa. Setelah melalui detik-detik dunia mahasiswi cukup satu semester setelah pemergian bapa, aku pulang dan berkata lagi pada bunda.

"mak, soal menikah dulu, anggap saja waktu itu Ela tengah angau. Maklum darah muda."

"kamu sudah abis fikir? bagaimana kalau kamu menyesal di kemudian hari?"

"maksud mak, dia menikah sama wanita lain?" tanyaku. Bunda angguk.


Aku bermonolog,


"Kerna kita bukan Tuhan, maka kita cuma berdepan dengan pilihan. Kita tiada kuasa menentukan. Apa yang bisa kita lakukan saat ini, jangan dekati jalan yang salah. Jalan yang salah itu dalam konteks, terang-terangan salah. Kerna soal hidup seperti menikah, jatuh dalam konteks tiada jawapan yang salah atau betul. Semuanya bergantung pada kondisi dan cara insan itu sendiri. Hidup ini adil. Yang menikah bisa dapat pahala berganda apabila saling menggalakkan ke arah jalan kebaikan. Tapi itu tidak beerti yang belum menikah tiada pahala, kita juga bisa terusan berbuat pahala dengan berbuat kebaikan dan jauhi maksiat."

Kawan, selagi bergelar hambaNya, kita masih punya peluang mendapat pahala. Kita masih berpeluang untuk bahagia. 

hahaha. Bermula dengan angka 23, terus bicara lari pasal menikah. I mean, seusia begini sudah lumrah kalau orang rajin bertanya kapan menikah. Ahhh, bukan kalau orang kampungku, mereka selalu tanya, "bila habis belajar?" hahahahaha

Tiada ulasan:

Catat Ulasan