Ahad, 28 Mei 2017

Hari-hari busuk bakal berlalu

Assalamu'alaikum dan selamat pagi

Ramadan mubarak.

Aku telah mencuba untuk menulis dengan konsisten tetapi tetap juga ada hal yang menghalangi. Meskipun aku merupakan seorang penganggur, ternyata banyak perkara yang mau kupenuhi. I believe there are abundance of things that I would like to achieve before my last breath in this world. Thanks to that, my day is happy as I want it to be now.

Pada suatu petang, ketika merajinkan diri untuk membersihkan tingkap rumah yang habuknya cuma tiada tatkala hari-hari besar, aku disapa bau yang busuk. Rupanya, di satu sudut rumah, tingkapnya menjepit satu makhluk cicak. Entah berapa lama tingkap itu cuma dibuka separuh jika berbuka dan entah bagaimana bangkai cicak itu cuma 'terdeteksi' ketika ulat-ulatnya sudah tidak mampu menggerakkan diri gara-gara telah montel-montel.

Aku capai sekotak tisu. Satu dua helai aku tarik dengan rakus. Tidak cukup, kutarik lagi helaian entah berapa banyak kali sampai akhirnya yang tertinggal hanya kotak tisunya. Aku gilap permukaan tingkap itu sampai puas hati. Biar tidak terkesan kalau di situ pernah ada seekor cicak mati membusuk dan membuah ulat.

Pewangi yang jarang disembur memenuhi ruang. Sempat aku berkira, kalau aku berharap ia berwangi lavender. Kerana hidungku tatkala itu mengecam dua bau yang berbeza. Cuma lavender yang bisa membius deriaku dari berfungsi.

Seketika, bergumpal-gumpal putih menikari tanah coklat di tepi rumah mak. Tisu yang cuma meninggalkan kotak kosong kini bakal menyatu dengan alam. Membalas budi alam, mungkinkah.

Kawan, apa yang aku hendak sampaikan kepadamu, aku tidak tahu sebusuk apa hidup yang kau jalani, tetapi cukup kau tahu kalau tiada guna membiar ia terus membusuk. Kau jalani hari seperti tiada apa yang busuk tetapi sedikit pun, busuknya tidak mungkin tertanggungkan.
Ayuh, capai tisumu. Capai detergenmu. Capai lavendermu. Mungkin kau juga bakal menghabisi satu kotak tisu, biarlah kerana bukan tisu indikatornya hidupmu tetapi bau busuk itu bakal menghakimi hari-harimu.

Jika kau berkira tentang tisu, ingatlah sehabis dipakai ia kembali ke alam juga. Bukankah kita makhlukNya tercipta untuk saling berbudi dan berbakti.

Sayonara bau busuk. Sayonara sekotak tisu yang meninggalkan kotaknya. Jalani hidup seperti sedia adanya tatkala pewangi yang diam-diam pergi meninggalkan ruang. Tisu dan pewangi, datangnya mengubah tetapi tidak selamanya bersama kita. Ia bakal pamit.

Kini, tingkap itu dengan gah ia menghadapi langit dan seisinya.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan