Ahad, 13 Mac 2016

buku

Assalamu'alaikum dan salam sejahtera

Sekarang ni pelajar komunikasi iium sibuk menyiapkan diari harian selama tiga puluh hari sebagai tugasan subjek Thinking Techniques for Communicators. Rabu depan kena hantar dan aku masih terkial-kial menaip pemikiran positif dan negatif, o ya juga melukis. Bagi pelajar Muslim Press, mereka sedang giat mencari media practitioners dan politicians untuk ditemu ramah. Hahaha. Aku dulu-dulu, siap temu ramah melalui telefon lagi. Tapi itu dulu la. Baru padan dengan gpa yang teruk masa tu. Untuk subjek News writing, aku lah yang tercorot dalam menyiapkan news. Ya ampun... Zhe Pheng tu lagi rajin dari aku. Ada sahaja news yang dia bawa tiap minggu. 

Semalam, aku beli buku Widji Thukul cetakannya Kedai Hitam Putih. Antara penyair/ pemuisi Indonesia, aku paling suka sajak-sajaknya Widji. Aku suka bahasanya Widji. Kali pertama aku discover puisi Widji berkenaan puisi yang dia tujukan untuk anaknya Wani. Dari situ aku sudah kata dalam hati, ini dia pemuisi yang aku cari.

Widji merupakan antara mangsa korban orde baru, iaitu diculik tanpa dikesan sampai sekarang, hanya kerana dia seorang pejuang hak asasi manusia. Dia dipercayai diculik oleh militer pada tahun 1988, dan didaftar sebagai orang hilang tahun 2000, maka kiralah berapa tahun sudah dia hilang tanpa berita.

Sebenarnya banyak puisi terkenal Widji, tapi aku paling suka yang cuma diberi tajuk Catatan (banyak lagi puisi lainnya yang diberi tajuk catatan). Puisinya berbunyi begini,

udara ac asing ditubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual
terkemuka
tetapi harganya
o aku ternganga

musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untukku keluargaku
makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

Puisi ini kena sekali dengan situasiku. Terlalu banyak buku yang ingin dimiliki tetapi tidak punya ongkos. Kalau ada pun, beli cuma yang ala kadar walaupun yang diidamkan yang hardcover. Kos beli buku terlalu tinggi sampaikan kalau aku beli buku, kadang-kadang aku terfikirkan orang lain yang mungkin wang sejumlah itu diguna untuk ongkos makan. Seringkali aku mendengar pujian rakan-rakan yang menyatakan aku menggunakan wang ke jalan yang 'betul' alias tidak sia-sia. Tetapi tetap juga duit yang aku guna tadi itu kalau sampai ke tangan yang perlu, boleh buat ongkos makan seminggu dua barang. Jadi apa bezanya antara aku dengan mereka yang lain di luar sana yang mungkin guna duit itu untuk makan bajet hipster, branded produk, etc (bunyinya racist tapi itulah kalau aliran wang kita dipakai mengikut haknya-tentu tiada siapa yang homeless dan tidak makan berhari-hari).

Maksudnya, kalau buku-buku tadi ditukar menjadi wang, tentu saja bisa ongkos makan kalau tidak setahun pun bole la tampung selama anggaran enam bulan. Tapi tiada siapa yang mengambilnya (unless kalau ada wataknya the book thief, itupun dia 'curi' buku untuk dia baca) kerana nilai buku sudah tiada di mata masyarakat. Bayangkan kawan-kawan, kalau aku ke mana-mana toko, kalau hendak entri makan, aku tinggalkan saja buku-buku itu di meja makan, kamu kira ia bakal hilang? pastilah tidak. Masyarakat tidak meletakkan nilai pada buku. o kasian ya.

Tapi kontra ya, aku pernah terbayang sekiranya mencuri itu halal, satu-satunya yang aku bisa perbuat adalah mencuri buku. Iya itulah. 

Pernah hal ini diutarakan oleh beberapa pedagang (?) buku. Katanya, kos-kos buku di negara barat lebih murah berbanding kita di Malaysia. Lagi-lagi kalau kalian perasan bukunya penulis yang telah pergi. Tipu kalau aku bilang aku tidak cemburu pada mereka yang belajar di luar negara dan bisa beli buku yang murah-murah, contoh paling tidak jauh adalah di Indonesia. Bagi aku, Indonesia juga salah sebuah 'kilang buku' kerna bisa menghasilkan karya-karya sastra yang bagus-bagus ditambah dengan kos yang jauh lebih murah daripada di Malaysia. Lantas pedagang tadi mengutarakan, kalau semua pihak menurunkan harga buku (nilainya diturunkan) maka di mana letaknya nilai buku tadi? Padahal buku itu kita angkat sebagai sesuatu yang bernilai dan berharga. Aku setuju. Bagi seorang yang sukakan buku, semahal apa pun nilai buku itu maka akan diusahakan juga, kenapa ndak sampai menabung ya. Jangan kata hendak beli yang ciplak, kasihan pengkarya. Tapi kalau difikir balik, ilmu yang ada dibuku itu bisa menjadi beban kepada yang tidak mampu. Semakin diangkat nilai sebuah buku tersebut, semakin tinggi nilainya. Jadi apa beza antara buku-buku ini dengan produk-produk di luar sana ? Untuk konteks anak luar bandar atau anak di kaki lima, mereka tidak punya masa untuk mendatangi perpustakaan, ah hari-hari itu dipenuhi dengan mencari wang buat sebungkus nasi. 

Mungkin peluangnya agak tipis tapi kalau nilai buku dikurangkan, boleh jadi buku ini ibarat snek harian mereka, bisa dibeli dan dijamah bila-bila saja. (sampai ka analogiku?). Atau mungkin kita sendirilah yang datangi mereka dan menyebarkan virus ulat buku dalam kalangan mereka.

a sampai sini dulu. bye. *sambung diari

Tiada ulasan:

Catat Ulasan