Isnin, 6 Mac 2017

Sorotan pembacaan: Indonesia Timur Tempo Doeloe

Assalamu'alaikum dan selamat malam.

Pertamanya, sekiranya kunjungan kalian bertujuan akademik, dengan sungguh-sungguh aku mohon apologi kerna pemilihan tajuk yang memancing dan penulisan isi yang tidak selari. Kalian bisa lanjutkan pencarian kalian di laman lainnya. Aku pun sedang menimbang keinginan untuk menulis lebih serius dan berinformasi di masa hadapan tetapi masih tercari-cari 'tema/genre' yang sesuai dengan kemampuanku.

Buku ini judulnya Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 hasil susunan George Miller, dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Ada banyak Bab, berdasarkan jangka waktu dan aku kini di helaian terakhir bab 2, Para Misionaris dan Pelaut iaitu sekitar abad ke-17.

Aku memutuskan untuk berkongsi beberapa point yang agak menarik perhatianku sebelum naskah ini kuhabisi. Jadi, mungkin akan menyusul bahagian kedua dan seterusnya bersesuaian dengan kemampuanku.

Narasi David Woodard, 'Uniknya kehidupan di Pantai Barat Sulawesi' mencuri perhatianku buat pertama kalinya setelah melewati helaian yang ke-87. Bukan bermaksud nukilan sebelumnya tidak menarik, tetapi jurnal David merupakan hal yang boleh dikatakan terkait dengan leluhur terdahulu. Ada dua point yang akan aku bicarakan dari nukilannya David. Pertama, perihal obat-obatan masyarakat di Pantai Barat Sulawesi ketika itu iaitu sekitar tahun 1793-1795. David menulis,

"Mereka menganggap bahwa jampi-jampi dapat menyembuhkan segala penyakit. Pinang adalah obat nomor satu bagi mereka. Jika ada bagian tubuh seseorang sakit, maka si sakit akan meminta tolong orang lain untuk memanggilkan kepala suku. Begitu tiba, ia mulai meraba bagian yang sakit dan kemudian mengambil sejumlah besar susur pinang, mengucapkan mantra-mantra ke dirinya sendiri lalu meniup bagian tubuh yang sakit tadi. Hal ini dianggap sebagai obat paling mujarab."

"Namun jika si sakit menderita demam, mereka seringkali datang membawa gendang yang nantinya akan ditabuh oleh dua orang pria; satu orang di setiap sisinya. Jika hal ini tidak berhasil, mereka akan memukuli panci tembaga sebagai gantinya yang akan terus dipukul si pasien sembuh atau meninggal. Jika pasien meninggal, maka gendang dan panci akan segera dibuang keluar rumah beserta penabuh gendang dan si tabib."

Suku Bugis amat akrab dengan kata dukun/bomoh/sandro dan jampi-jampi. Tidak dinafikan lagi 'budaya' ini amat berpengaruh kerna masih dipraktikkan sampai ke hari ini malah makin berevolusi. Ia bukan sekadar jampi/mantra dan pinang, bergantung dengan demand si dukun atau kondisi si pesakit. Sebagai contoh, ada dukun yang minta disediakan satu pek rokok, atau wang pendahuluan, ada juga meminta pisang, air minuman yang kadang kalau difikir secara logik ianya manipulasi, bisnes semata. Sebab adakalanya bahan-bahan tersebut sudah tersedia oleh si dukun dan pelanggan hanya terus 'membelinya' dari si dukun. Tetapi paling lazim pembayaran secara wang. Selalunya 'musabab' sakit yang selalu diguna pakai oleh si dukun adalah 'guna-guna' dari orang lain, maka si pesakit mulalah meneka-neka kalau-kalau ada seteru. Ada juga yang menggunakan istilah disebabkan 'temurun' yang minta diziarahi kuburannya dan ada juga yang mengatakan ada anak atau ahli yang mellajang (ghaib). Ada juga musabab kerna penjaga tanah/sungai/kebun dan sebagainya.
Cara pengubatan juga pelbagai, ada dukun yang mengubati melalui pemakanan (selalunya bagi air jampi), secara fizikal (cth: memandikan pasien, urut, atau sembur kunyahan pinang ke bahagian yang sakit) dan tangkal? Tapi istilah dukun bukan cuma terkait dalam perubatan tetapi boleh jadi meliputi segala aspek, contohnya pendidikan (supaya pelajar pintar dan cerdas otaknya), ekonomi(cth bisnes. ini kadang termasuk dalam isu tarekat) dan rumah tangga.

Suatu ketika dahulu, posisinya dukun boleh dikatakan amat disegani di dalam masyarakat (since they were the expert according to the society before modern knowledge &technology arrived). Tetapi agak kurang sekarang walaupun mungkin sebenarnya masih aktif cuma aku kurang mengambil tahu. Jenis-jenis dukun juga pelbagai... selalunya dikunjungi dari pelbagai pelanggan yang kadang datangnya dari jauh kerna berita kemahiran dukun tersebut tersebar melalui mulut ke mulut oleh masyarakat. Jenis bacaan mantra juga ada pelbagai, semenjak kedatangan Islam, sebahagian dukun ada yang menggunakan bacaan ayat al-Quran walaupun kredibiliti si dukun diragui.

Untuk penyataan di perenggan kedua di atas yang dipetik dari jurnal David, terlalu asing bagiku. Mungkin budaya ini sudah tidak dipraktikkan dalam society kerna aku belum pernah mendengarnya sampai ke saat ku baca helaian tersebut.

Selanjutnya, perihal perkahwinan. Nota David mencatat,

" Setelah makan malam, pengantin pria dan wanita dibawa ke kamar yang telah dihias dengan berbagai lembaran kain cita. Satu atau dua tabung bambu berisi air diantarkan ke kamar. Setelahnya, mereka tidak diganggu lagi sepanjang sisa malam hingga tujuh hari berikutnya. Selama itu, keduanya tidak pernah terlihat di depan umum. .. mereka tetap bisa menerima pengunjung namun tidak boleh terlihat di depan umum selama sepekan."

"Saya pernah menghadiri sebuah pernikahan di rumah Tuan Haji. Ia menikahkan pasangan muda dan keduanya dipingit dalam kamar selama 4 hari."

Ini juga baru saya tahu kerna saya yakin betul kalau budaya ini sudah tidak dipraktikkan lagi. Saya menyangka mungkin ini dilakukan untuk merapatkan hubungan di antara pasangan, dahulu perkahwinan bukan atas dasar suka sama suka tetapi lebih kepada atas pilihan keluarga. Kadang ada di antara pengantin yang tidak pernah pernah bertemu kecuali di hari perkahwinan mereka. Atau boleh jadi juga atas dasar faktor kesopanan. Ironinya, menunjukkan kasih-sayang dalam kalayak  umum tidak sinonim dengan suku Bugis. I mean, since the couple was a newlywed...

Ini dikuatkan dengan nota selanjutnya oleh David,

"Saya tidak pernah melihat pasangan Melayu saling berciuman atau mencium anak-anak mereka, namun mereka selalu tersenyum kepada anak-anaknya. Meskipun demikian, para orang tua sering ikut bermain dengan anak-anak mereka yang masih kecik."

Ah, sampai sini dulu tulisan saya. Sebenarnya mahu menghabisi dua point lagi tetapi melihatkan petikan sudah cukup panjang, lebih baik saya tamatkan dulu.

Selamat tidur, kalian.

(Nota: aku menanyai mak tadi, mak bilang memang ada adat yang mengurung pengantin di kamar selama beberapa hari pada zaman dahulu. Ia bertujuan mengeratkan hubungan pasangan kerna ada yang belum pernah bertemu/kenal sebelum kahwin.)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan